Sajak Rintih

Sajak Arika Khoiriya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun duri sedang senang menusuk nalurinya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun angin kencang menyeruak runtuh raganya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun rona rembulan enggan menampakkan sinar kepadanya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun bumi sudah tidak ingin lagi melihat langitnya

Dan setiap orang juga berhak bahagia,

Sekalipun mimpinya selalu ditekan dengan omong kosong dunia

Larut dalam tangis, 17-01-’18

Advertisements

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Pada tanggal 16 Desember 2017 lalu saya pulang ke Kudus untuk melakukan survei di Desa Dukuhwaringin Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Selama 3 hari saya berhasil menyelesaikan penelitian tersebut dengan bantuan teman saya yang bernama Mega. Awalnya saya ingin memutuskan pulang dari Semarang langsung menuju ke Desa Dukuhwaringin, tapi sayangnya saya belum mengetahui dengan ngeh lokasi desa tersebut, ‘Pokoke ngliwati Colo’ begitulah kebanyakan orang mengatakan, itu berarti lumayan jauh dari rumah saya, jadi saya memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, sambil menyiapkan berkas dan mencari tahu tentang Dukuhwaringin, terutama Kepala Desanya.

17 Desember 2017, hari itu juga saya berhasil menemukan Kantor Kepala Desa Dukuhwaringin​, karena hari itu hari Minggu, kantor tutup. Jadi saya langsung ke rumah Pak Kepala Desa, namanya Pak Aris Istiyanto. Beliau baik walau agak cuek, tapi setidaknya terimakasih sekali sudah mengizinkan saya untuk survei disana. Dari sini saya jadi tahu bahwa kita memang tidak bisa sembarangan masuk desa tanpa ada surat keterangan survei yang resmi.

Saya pernah berpikir, kenapa rumah Kepala Desa itu pasti kebanyakan tak jauh dari Balai Desanya? 

Well, karena informasi berkas yang saya butuhkan untuk penelitian berada di Kantor semua, jadi Pak Kepdes tidak bisa membantu banyak, beliau hanya bisa menyarankan datangi saja setiap Ketua RT yang berhasil terpilih sebagai sampel, atau pilih besok hari Senin saja ketika kantor buka. Tapi karena saya juga dikejar waktu, mau tidak mau saya harus mencari tahu langsung.  

18 Desember 2017, saya langsung pergi ke balai desa untuk meminta data dari perangkat desa, disana diberikan pelayanan yang baik, saya suka. Dan setelah mendapatkan data yang sudah cukup membantu akhirnya saya bisa terjun wawancara dari rumah ke rumah. Hari itu hanya berhasil mendapatkan 6 responden saja, itupun susahnya minta ampun untuk mencari alamat setiap warga yang terpilih menjadi sampel tersebut. Sampai-sampai saya dan teman saya hafal jalan setiap RT disana, dan nama perangkat desapun saya juga hafal, karena beliau-beliau yang sering membantu, terimakasih sekali.

19 Desember 2017, Hari dimana saya harus menyelesaikan survei tersebut secepat mungkin karena..

esoknya..

saya..

ADA UAS DAN BANYAK TUGAS YANG BELUM TERSELESAIKAN!!!

Yak, hari itu juga saya akhirnya berhasil melengkapi dengan 4 responden, pada responden terakhir adalah Pak Ketua RW 02 Dukuhwaringin sendiri, namanya Pak Selamet. Beliau baik, ramah dan humoris. Waktu itu kebetulan beliau dan istrinya berada di warung. Jadi saya dipersilahkan untuk wawancara disana saja. 

Selama wawancara, saya justru tidak fokus dengan quosioner nya, karena saya lebih banyak ngobrol dan tertawa dengan Pak Selamet, seharusnya yang harus saya wawancarai adalah Bu Surani, tetapi kadang beliau juga bingung sendiri untuk menjawab. Alhasil, yang selalu menjawab adalah Pak Selamet. Kita asyik membicarakan budaya politik disana, perkembangan desa tersebut, pariwisatanya, pupuk, pertanian, kinerja pemerintah jateng, partai politik, masalah yang di alami desa tersebut dan sebagainya dengan menggunakan bahasa yang ringan. Desa ini juga tergolong kecil sekecamatan Dawe, suasananya sepi, asri, tenang, pemandangannya juga bagus dan udaranya juga lumayan dingin. 

Seminar Regional Class; How To Be Digital Citizen Journalist

Pada bulan November lalu saya sering mengikuti seminar tentang dunia jurnalis, sejak saya mengetahui event Citizen Journalist Academy membuka workshop dan audisi di Semarang saya jadi penasaran dengan dunia wartawan. So, kali ini saya ingin membagi isi materi dari salah satu seminar yang saya ikuti satu bulan yang lalu. Walaupun tidak begitu lengkap, mungkin saja bisa bermanfaat.

Seminar ini adalah sesi Regional Class yang merupakan program para finalis Citizen Journalist Academy Semarang yang mengusung tema How To Be; Digital Citizen Journalist, seminar ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 November 2017 pukul 15.00 WIB bertempat di Ruang Seminar Gedung Pusat Lantai 2 Universitas PGRI Semarang. Pematerinya adalah Muhammad Syukron (Jurnalis Suara Merdeka) dan Edhie Prayitno Ige (Jurnalis Liputan6.com).

Seminar Citizen Journalist Academy Semarang

Pak Edhie Prayitno (Jurnalis Liputan6.com) saat menjelaskan materi di Gedung Pusat UPGRIS

So, ketika kita ingin menulis berita ternyata ada 3 unsur selain 5 W + 1 H gaes, namanya 3 E + 1 N, what’s that?

  1. Educating (mendidik)
  2. Enlightening (mencerahkan)
  3. Empowering ( memberdayakan)
  4. Nasionalisme (kebangsaan/NKRI)

Ketika acara berlangsung pemateri lebih suka sharing pengalaman daripada fokus pada materi. Dari Muhammad Syukron misalnya, seorang jurnalis Suara Merdeka yang mengawali hidupnya dibidang menulis dengan sering mengikuti lomba dan suka mengirim tulisan cerpen dan puisi ke majalah Aneka. Beliau juga sempat bercerita bahwa karena zaman dulu itu belum ada handphone, jika ada orang yang suka dengan tulisan beliau orang itu harus datang ke redaksi Aneka dulu lalu baru bisa mendapatkan alamatnya beliau.

And then, saya juga ingat satu pertanyaan dari mahasiswa pers pada saat itu, dia bertanya tentang saat perwakilan dari sebuah LPM ingin melakukan wawancara tetapi ditolak dan dilarang, menurutnya LPM seperti tidak ada kebebasan atau wewenang untuk melakukan suatu wawancara, padahal mereka juga berusaha mencari berita. Lalu Pak Edhie Prayitno (jurnalis Liputan6.com) menjelaskan bahwa “ketika kita ingin wawancara di sebuah tempat yang rawan misalnya, usahakan tidak usah membawa nama LPM segala atau pers apapun itu, ngobrol biasa saja dengan santai, pakaiannya juga tidak usah formal, yaa nyamar saja seperti pengunjung atau orang-orang lainnya, karena dari ngobrol itu justru kalian bisa dapat data banyak, saya saja sering hanya memakai sandal jepit dan celana pendek kok ketika terjun dilapangan”.

Well, saya jadi ingat waktu saya mengunjungi open perdana Wisata Pasar Karetan di Kendal, untuk mendapatkan informasi saya harus membeli jajanan sembari ngobrol pada salah satu pedagang Pasar Karetan, setelah bertanya ini dan itu dengan salah satu pedagang, alhasil saya berhasil mendapatkan banyak informasi.

Saya memang bukan anak LPM sih, karena dulu saya pikir genre (kiblat) LPM kampus saya itu pasti itu-itu mulu. Saya yang lebih suka menulis dengan bahasa ringan dan fun sepertinya tidak cocok untuk masuk di sebuah LPM. Jadinya sampai sekarang saya masih suka ngeshare pengalaman pribadi saya kepada teman sesama bloger buat dibaca dan yang terpenting itu buat melatih menulis. Karena jujur saja, saya masih kesulitan mencari waktu untuk bisa disiplin menulis, dan kadang tidak bisa cepat dan tepat waktu menulis setelah mengikuti event-event tertentu, padahal ingin sekali membagikan informasi secara up to date, tetapi susah juga.

Foto bersama finalis citizen journalist academy semarang

Pasar Karetan; Budaya Pasar Tradisional Bernuansa Pariwisata.

Pasar karetan

Acara berlangsung seru dikelilingi banyak wartawan

(Minggu, 05/11/2017) – Hari ini saya mengunjungi Radja Pendapa Camp, tepatnya di Desa Segrumung, Meteseh, Kec. Boja, Kendal, Semarang, guna untuk memenuhi rasa penasaran saya dengan open perdananya Pasar Karetan. Sebelum sampai lokasi, saya dan teman saya harus menaiki odong-odong terlebih dahulu untuk sampai tujuan, and you know what? that’s free gaes. 

Lho memangnya apa sih maksudnya Pasar Karetan? Well, nggak tahu juga sih yak, sesampainya saya disana ternyata lokasinya dekat sekali dengan hutan karet, mungkin itu sebabnya namanya jadi Pasar Karetan. Hahaha 😛

So, pasar rakyat ini ternyata hasil ide kreatif dari GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Jateng, dimana mereka ingin menciptakan pasar tradisional yang juga mempunyai nilai pariwisata. Great!

Pasar ini dibuka mulai pukul 06.00 sampai 11.00 WIB. Saya tiba disana kira-kira jam 09.00 dan itu sudah dipadati dengan berbagai macam manusia dari berbagai kalangan. Nuansa tradisional nan artistiknya juga terasa banget karena banyak berbagai jajanan khas, mainan, dan juga tarian tradisional yang ditampilkan disana. Hal seperti inilah yang membuat saya tidak bisa lepas dengan kamera.

Pasar karetan

Penjual jajanan khas tradisional di Pasar Karetan

Pernyataan dari salah satu penjual jajanan tradisional mengatakan, ternyata penjual yang ditempatkan oleh panitia untuk berjualan disana ada yang berasal dari Pasar Johar dan Pecinan yang juga merupakan tempat wisata kuliner di Semarang. Padahal saya pikir dari warga-warga Kendal itu sendiri, ternyata bukan.

Pasar karetan

Seorang anak kecil sedang asyik melukis payung

Tidak hanya itu, disebuah spot bertuliskan “Radja Pendawa Camp” saya melihat terdapat banyak segerombolan anak-anak sedang asyik melukis payung, saya yang penyuka seni semakin penasaran dan tidak segan untuk mengambil jarak dekat untuk melihat proses melukis mereka. Lagi-lagi, hal-hal seperti ini, saya tambah tidak bisa lepas dengan kamera saya. So, this is very great culture and creative banget gaes, sepertinya tempat ini bakalan saya jadikan list tempat favorit saya yang kedua setelah Kota Lama, hahaha 😛

Little Monkey Island Of Goa Kreo Semarang

Goa Kreo semarang

Pemandangan Waduk Jatibarang, Goa Kreo Semarang.

Seperti pulau di tengah danau, begitulah kesan pertama saya ketika memasuki objek wisata Goa Kreo Semarang ini. Goa Kreo merupakan Goa yang terbentuk oleh alam dan terletak di tengah-tengah Waduk Jatibarang. Lokasi tempat ini berada di Kelurahan kandri, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Menurut sejarah, destinasi wisata ini ada hubungannya dengan salah satu tokoh Wali Songo, yakni Sunan Kalijaga. Goa bersejarah ini juga ternyata di jaga oleh ratusan kera yang hidup secara liar tetapi tetap di lindungi dan sudah terbiasa dengan kehadiran wisatawan. Jadi tidak heran, ketika saya sedang menuruni tangga ingin menuju jembatan Waduk Jatibarang, suara-suara brisik terdengar dari kejauhan itu ternyata akibat polah dari beberapa MONYET! Yeah, nice. Sempat saya berpikir “Ini kenapa PULAU SUNGGOKONG BISA PINDAH KE SINI YAK?”. Tapi bukan, ini ternyata memang ada sejarahnya, yang sudah saya jelaskan di atas.

Jembatan Goa Kreo

Jembatan Waduk Jatibarang

Sebenarnya monyet-monyet itu tidak mengganggu sih, justru malah bisa buat hiburan para pengunjung, tapi menurut saya monyetnya memang cukup jahil, perlu hati-hati juga, karena kera-kera di sana kadang suka merebut makanan dan minuman pengunjung, baju teman sekelas saya saja sampai di rebut, mungkin karena warnanya yang menarik perhatian, who knows. Sebentar, ini kenapa asik membahas MONYET yak? Yeah, mungkin lain kali saya ingin menamakan objek wisata ini menjadi “Pulau Monyet Tersembunyi di Kota Semarang”. Sepertinya menarik.

Jadi, waktu itu saya mengunjungi wisata ini beberapa minggu yang lalu bersama semua teman sekelas saya, hanya bermodal Rp. 5000, masing-masing sudah bisa masuk menikmati pemandangan, dan tentunya berburu spot-spot yang menarik untuk pengambilan foto bersama.

Di sana saya sendiri sibuk memburu foto pemandangan yang mungkin hasilnya akan terlihat tidak biasa, karena kesan pertama saya ketika memasuki wisata ini seperti berada di sebuah pulau. Tempat ini cukup lumayan untuk dijadikan relaksasi. Saran saya harus berangkat rame-rame, lebih seru. Apalagi letak lokasi yang tidak terlalu jauh dari kampus saya, UIN Walisongo, menjadikan perjalanan saya tidak terlalu ada hambatan, perjalanan dari kampus sekitar 30 menitan sudah bisa sampai lokasi, atau mungkin mahasiswa yang berada di UNNES itu akan lebih dekat lagi, karena letak Goa Kreo sama-sama di Kecamatan Gunungpati, sama halnya dengan UNNES.

Human interest

Para penumpang perahu yang sedang sibuk memancing

Well, objek wisata ini tidak hanya dikunjungi oleh kalangan pemuda-pemudi saja, tetapi wisata ini juga cocok di nikmati bersama keluarga. hal yang menarik buat saya adalah ketika ternyata saya menemukan beberapa anak tangga yang jaraknya cukup panjang untuk bisa sampai pada lokasi jembatan yang menjadi objek utamanya. bukan hanya itu, sambil menyiagakan kamera, ketika sampai di area jembatan saya tertarik dengan kegiatan beberapa penumpang perahu yang sedang asyik memancing tidak jauh dari bawah jembatan. di dalam pikiran saya, “kok sempatnya sih, memancing di area yang seperti ini, apakah ada seekor ikan yang bisa diburu?” pertanyaan itu hanya terlintas sebentar di pikiran saya, karena mau tanya sama siapa pun sepertinya tidak ada yang paham, dan waktu itu juga pas tidak ada pemandu khusus yang mugkin barangkali bisa saya beri pertanyaan.

Human interest

Bapak ini mengancungkan tangannya setelah menyadari adanya kamera

Dengan asyiknya saya masih memotret-motret kegiatan para bapak itu di perahu tersebut, beberapa saat kemudian, ada salah satu bapak-bapak yang sudah merasa jika saya potret, lalu bapak itu dengan pede menoleh ke kamera saya dan mengacungkan tangannya dengan tanda dua jari; peace. Dengan sopan saya lalu mengkonfirmasi dengan tanda jempol, mengisyaratkan dengan arti bahwa; iya pak, sudah saya ambil fotonya, terimakasih.

“Tulisan ini di buat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang”. www.kabsemarangtourism.com

Little Netherland Of Semarang

IMG_20171021_102025_910[1]

Gereja Blenduk, Kota Lama Semarang (dokumen pribadi)

Tempat yang pertama kali saya kunjungi ketika merantau ke Semarang adalah Kota Lama. Waktu itu saya masih semester satu dan ada teman seasrama yang mengajak saya untuk pergi ke sana. Pandangan saya tentang Kota Lama pada saat itu hanya membayangkan bangunan-bangunan klasik yang berjejeran. Mungkin banyak slogan yang mengatakan bahwa “Kota lama itu tempat yang wajib kamu kunjungi kalau mau ke Semarang”, dan itu memang benar, siapa sih yang belum pernah ke Kota Lama? Hehh?? Sepertinya akan terdengar sangat aneh jika sudah berkunjung ke Semarang tapi belum pernah ke Kota Lama sama sekali, hahaha, eh.

IMG_20171021_140419_968[1]

Spiegel Bar and Bistro (dokumen pribadi)

Tidak hanya penduduk lokal sih, kadang saya juga menemukan beberapa turis yang suka berkunjung ke kota lama yang hanya sekedar untuk mengabadikan foto sambil mengamati bangunan yang klasik atau hanya sekedar pergi ke bar. Salah satu bar yang terkenal di kawasan Old Town ini adalah Spiegel bar and bistro, tempat makan  bernuansa heritage yang sering dikunjungi wisatawan ini letaknya tidak jauh dari Gereja Blenduk yang juga menjadi salah satu iconnya Kota Lama Semarang.

Well, semua itu memang karena pengaruh dari Belanda, mungkin dulu ketika mereka ingin membangun bangunan disana konsepnya di sengaja mirip nuansa Belanda agar mereka merasakan feels like home kali yak, atau mungkin mereka memang ingin meningalkan sesuatu (bekas) untuk di kenang atau juga sebagai bukti konkret jika mereka pernah di Semarang. Who knows, namanya juga sejarah.

IMG_20171021_140300_802[1]

Bangunan nuansa Netherland (dokumen pribadi)

Lalu, apa yang menjadikan saya kagum dengan Kota Lama dan apa tujuan saya menceritakannya di sini? Well, saya termasuk orang yang tidak akan pernah bosan berkunjung ke Old Town ini, saya mungkin sudah terdoktrin untuk selalu berkunjung ke sini kalau ada waktu luang, seperti weekend atau di sela-sela ada tugas banyakpun saya sempatkan ke sini. Refreshing dengan main sketchwalk, yang merupakan hobi baru saya dulu yang pernah saya bahas di postingan sebelumnya, dan juga berburu foto ala-ala human interest di sekitar Taman Srigunting (depan Gereja Blenduk). Berburu foto human interest juga termasuk hobi baru saya akhir-akhir ini. Tidak hanya itu, tempatnya yang klasik juga cocok untuk berburu foto bangunan arsitektur khas Belanda ini. Hasil karya-karya foto saya kebanyakan saya ambil dari Kota Lama.

Tempat yang sangat recommended banget memang untuk melepas penat bagi orang-orang yang berjiwa tenang dan penyuka seni seperti saya. Dan karena Kota Lama inilah saya menemukan Semarang Contemporary Art Gallery, sebuah tempat dimana saya bisa melihat dan bisa mengamati karya-karya seni kontemporer dari Para Seniman yang luar biasa.

IMG_20171021_140514_668[1]

Pintu masuk Semarang Art Gallery (dokumen pribadi)

Lagi-lagi, letaknya tidak jauh dari Gereja Blenduk, dari depan gereja masuk sebuah gang lurus lalu belok kanan kalian akan menemukan gedung Art Gallery yang lumayan tersembunyi. Masih berkaitan dengan Belanda, pada tahun 1937 bangunan Art Gallery ini dulunya bernama “DE INDISCHE LLYOD”. Well, hanya bermodal Rp. 10.000 kalian sudah bisa mendapat tiket masuk untuk menikmati karya-karya seni yang sudah terpajang di Semarang Contemporary Art Gallery.

IMG_20171021_140138_173[1]

Potret seseorang sedang mengamati karya seni @Semarang Art Gallery (dokumen pribadi)

Lagi-lagi, saya juga sering ke sini, dan pada intinya banyak spot-spot dari Kota Lama yang menarik perhatian saya, bukan hanya sekedar tentang sejarah, bangunan-bangunan klasik, hunting, atau tempat seni dan sebagainya, tetapi makna, cerita dan alasan yang ada di dalamnya.

Begitulah cerita yang dapat saya sampaikan kali ini, semoga tulisan ini dapat bermanfaat untuk kalian semua. See you guys! Wassalam.

“Tulisan ini di buat untuk mengikuti Lomba Blog Pesona Kabupaten Semarang”. www.kabsemarangtourism.com

Human Interest

Human interest fotografi

Bapak ini terlihat seperti penjual bunga tapi sebenarnya penjaga jasa sepeda hias di kawasan Kota Lama Semarang

Siapapun yang menyukai dunia fotografi pasti paham apa yang saya maksud dari judul diatas. Human interest ialah sebutan dari hasil pengambilan foto terhadap orang-orang yang sedang melakukan aktivitas agar yang melihatnya bisa merasakan simpati. Bisa ditemukan di jalanan, pasar atau tempat-tempat terpelosok. Tapi kebanyakan fotografer lebih mudah melakukannya di jalanan.

Sebenarnya human interest identik dengan fotojurnalisme, tapi gaya hasil potret ini banyak diminati oleh kalangan fotografer untuk sekedar menghasilkan foto candid atau untuk mendapatkan ekspresi orang-orang yang sedang melakukan aktivitas. Menurutku memang lebih menarik memotret secara diam-diam daripada harus bilang atau dengan kesengajaan. Hasilnya akan lebih natural dan ada nilai tersendiri untuk memaknai hasil foto human interest.

Saya sendiri tertarik dan baru paham dengan dunia foto human interest karena terinspirasi dari seorang fotografer sekaligus jurnalis Danny Maulana. Dalam postinganya, ia selalu memberi judul dan mendeskripsikan hasil fotonya. Karena saya juga suka dunia arsitektur, saya juga pernah hobi foto bangunan ala minimalis. Selain itu, gaya city vibes dan street vibes juga sangat saya sukai. Menggambarkan keadaan yang sedang terjadi di jalan ialah sesuatu yang sangat menarik bagi saya.

Menurutku human interest tidak hanya sudut pandang terhadap aktivitas seseorang yang dapat menimbulkan simpati pada kelas bawah. Tapi semua yang objeknya fokus pada manusia yang sedang melakukan aktivitas tertentu menurutku itu sudah hasil foto human interest. Misalnya, memotret seseorang yang sedang mengamati hasil karya lukisan. Well, mungkin itu dulu yang bisa saya share kali ini setelah beberapa minggu tidak menulis.

Andrihertz

Real Life

Consider Faith: A Blog on Christian Social Justice

A blog on Social Justice from the Christian Perspective

MataKita

Memandang realita tanpa mengubah fakta

annahabibunnisa

@little_fairy

Juman Bin Wastono

Catatan harian seorang ayah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

AEP

mengambil pelajaran di setiap persinggahan

Empowered

Everyday

Caramel Mocha

About Coffee, Sugar, and Chocolate in A Cup of My Life ☕

miranda suruan

there's no fears

zainalabidin97

Bacaan Ringan

Nur Akhmad Tri Aji

Diver. Being natural. Life learner.

Rahmanu's Blog

Hej Hej! Apa kabar?