Posts from the ‘Sastra’ Category

Siapa Namamu?

CerpenMungkin aku memang tak akan pernah mengerti, untuk kedua kalinya dalam persiapan perjalanan pulang aku melihatnya terdiam seorang diri di atas ayunan bangunan historic yang luas itu. Mengayunkan kakinya secara perlahan, seirama dengan kondisi jiwanya. Dengan ke-sok tahuan-ku, sepertinya ia seorang pemburu panorama, terlihat jelas jenis benda apa yang sedang ia bawa. 

Mungkin juga aku tak ingin peduli, sungguh aku tak ingin peduli. Tetapi dengan gaya jiwa dan emosi yang seperti itu sungguh menarik perhatianku. Ada teka-teki yang memang tak akan pernah kumengerti, sendu senja yang menggelitikkan hati. Aku sudah mencoba untuk tidak peduli, aku memilih mengincar pemandangan bangunan yang akan kupotret berkali-kali.

Terdiam menikmati, dan terlihat jelas para pengunjung bersiap untuk kembali sembari mangabadikan senja yang terlihat berbeda kala itu. Tidak usah heran, itulah yang mereka kerjakan, itu kesenangan, itu hobi, mereka tak peduli. Aku tersenyum, kapan lagi bisa bertemu senja seindah ini? Sungguh itu tempat yang menjanjikan.

Sedikit demi sedikit tempat itu mencapai titik kekosongan. Temanku menarik lenganku sambil berlari, memperingatkanku untuk segera turun dari bangunan historic itu. Memang, mendekat adalah sesuatu yang tidak mungkin kulakukan dan menjauh adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam detik menuruni tangga, pikiranku hanya terlintas dengan satu tanya. Siapa namamu?

Semarang, 06/06/2017

PELARIAN

Aku dikenalkan pada sebuah tempat

Penggeliat segala rasa,

Rindu, lelah, bahagia

Tentang mimpi-mimpi dan kesibukan omong kosong

Tak peduli tugas apapun yang sedang menggeliat dikepalaku,

Yang jelas aku butuh tempat itu.

Tak peduli sudah seberapa kali aku datang, 

Aku tak akan pernah merasa bosan. 

Tak peduli mengapa aku selalu memilihnya,

Aku tak akan lupa setiap kenangan didalamnya

Tak peduli seberapa hafal aku dengan bangunan-bangunannya, 

Aku tak akan berhenti memotretnya

Itu kesenangan, 

Itu hobi,

Aku tak peduli. 

​MELANKOLIA ALAM SEMESTA

Sastra (puisi)

Bumi menangis,

Dengan rasa yang enggan beranjak

Bumi bergetar,

Dengan rasa yang enggan memihak


Dan Langit, 

Dengan lihai tak pernah memaksa angin untuk bicara

Lalu udara,

Dengan lihai tak pernah memaksa bumi untuk bertanya


Dan mentari datang lebih awal

Memaksa bumi untuk melihatnya

Bumi masih menangis 

Dimana kabar itu?


Tapi mentari enggan bicara 

Dan awan enggan menjawab

Langit masih ingin bijak

Tapi bumi mulai beranjak


Udara pun ikut mencoba menjawab

Dari mentari, langit akhirnya bicara 

Hingga akhirnya angin datang 

Bumi tersenyum

ncep's gallery

“Semoga kau mengerti aku lewat caraku memandang dunia. Jadilah mataku saat ini." -Hardiansyah Seftian

A R T I K E L 📌 M A R L Y

A collection of articles that are interesting to read, provide motivation and encouragement for you.

Kunudhani

kumpulan kisah datar anak manusia dan lingkungan disekitarnya.

SHARING IS CARING

" Adult life maybe less dramatic, but fireworks do not keep you warm..."

Hastagdije

Aku tumpahkan kata, Aku buang rasa, Aku peluk segala

Jejakandi

Ketika kembali membaca jejak yang pernah kau tinggalkan, kau merasa ada sesuatu yang telah berubah.

Indonesia

Atribut kontemporer

Pemimpi

Pembicara sebelum tidur

Arika Khoiriya

Catatan Mahasiswi Semester Empat

DiPtra

Hidup Minimalis . Minimalism . a journal

Bima Sakti Notes

Sharing knowledge and information

Lina Karlina

Jadilah diri sendiri yang lebih baik

It's me, Dang Feby

Mencoba berbagi, mencari dan mengeksplorasi

Catatan Kangsole

Tentang semua yang terlintas dan kenangan

The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Galeri Puisi

selamat bertandang puan dan tuan, Selamat mengeja!

Kedai Pustaka

Berbagi Informasi Bebas Berguna

sikola cappa' kampong

kalau mereka tidak bisa kenapa kami tidak bisa, kalau mereka bisa kami harus bisa

Muhamad Nasir

Yakin Usaha Sampai..

Bang Ical

bukan siapa-siapa.