Search

Arika Khoiriya

My Journey

Category

Sastra (Puisi)

Sajak Rintih

Sajak Arika Khoiriya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun duri sedang senang menusuk nalurinya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun angin kencang menyeruak runtuh raganya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun rona rembulan enggan menampakkan sinar kepadanya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun bumi sudah tidak ingin lagi melihat langitnya

Dan setiap orang juga berhak bahagia,

Sekalipun mimpinya selalu ditekan dengan omong kosong dunia

Larut dalam tangis, 17-01-’18

Advertisements

PELARIAN

Aku dikenalkan pada sebuah tempat

Penggeliat segala rasa,

Rindu, lelah, bahagia

Tentang mimpi-mimpi dan kesibukan omong kosong

Tak peduli tugas apapun yang sedang menggeliat dikepalaku,

Yang jelas aku butuh tempat itu.

Tak peduli sudah seberapa kali aku datang, 

Aku tak akan pernah merasa bosan. 

Tak peduli mengapa aku selalu memilihnya,

Aku tak akan lupa setiap kenangan didalamnya

Tak peduli seberapa hafal aku dengan bangunan-bangunannya, 

Aku tak akan berhenti memotretnya

Itu kesenangan, 

Itu hobi,

Aku tak peduli. 

​MELANKOLIA ALAM SEMESTA

Sastra (puisi)

Bumi menangis,

Dengan rasa yang enggan beranjak

Bumi bergetar,

Dengan rasa yang enggan memihak


Dan Langit, 

Dengan lihai tak pernah memaksa angin untuk bicara

Lalu udara,

Dengan lihai tak pernah memaksa bumi untuk bertanya


Dan mentari datang lebih awal

Memaksa bumi untuk melihatnya

Bumi masih menangis 

Dimana kabar itu?


Tapi mentari enggan bicara 

Dan awan enggan menjawab

Langit masih ingin bijak

Tapi bumi mulai beranjak


Udara pun ikut mencoba menjawab

Dari mentari, langit akhirnya bicara 

Hingga akhirnya angin datang 

Bumi tersenyum

LITERASI MIMPI

​Hitam, putih,

Hitam, putih,

Hitam, putih,

Hitam, putih,

Hidupku, hidupmu,

Berkali-kali aku bermimpi,

Berada disebuah tempat yang suci

Tetapi kesempatan itu hanya sekali

Berkali-kali aku bermimpi,

Berada disebuah tempat penambah intelektualitas diri

Tetapi kesempatan itupun hanya sekali

Berkali-kali aku bermimpi,

Aku tidak ingin menjadi wanita yang kalah dengan laki-laki

Tetapi aku semakin tidak tahu diri

Berkali-kali aku bermimpi,

Berdiri didepan diantara barisan para pemimpi

Tetapi itupun tidak cukup untuk bekal mental diri

Berkali-kali aku bermimpi,

Tulisanku tercantum pada sebuah majalah literasi

Tetapi cuilan-cuilan sajakku telah di tolak berkali-kali yang mungkin tiada arti

Berkali-kali aku bermimpi, 

Ingin menginjakkan kaki di tanah lain negeri

Tetapi bakatku yang tertanam dari sana sudah tidak ada lagi

Di Antara Hujan, 7-02-2017

UNTUK LANGIT DAN ANGIN

Suatu hari..

Bumi mengadu terhadap langit..

Harus bagaimana lagi..

Bumi tetap mengadu terhadap langit..

Air tak mendengar, udara tak membalas..

Harus bagaimana lagi..

Langit masih harus terjaga dengan kebijaksanaannya..

Oh.. semesta, harus bagaimana lagi..

Bumi kehilangan separuh tanah kehidupan bahagianya..

Setelah mentari itu berkata..

Angin lalu menghilang..

Bumi kehilangan keberadaannya..

Harus bagaimana lagi..

Bumi tak bisa lagi mendustai..

Hingga mencari-cari kata lain untuk menyembunyikannya..

Tetapi itu hanya sia-sia..

Bumi menangis..

Harus bagaimana lagi..

Hanya bisa menunggu kebijaksanaan dari langit..

Menunggu kabar mentari itu dari udara..

Kabar yang menari-nari riang darinya..

Kudus, 18 Januari 2017

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑