Posts from the ‘Kehidupan’ Category

Selamat Tinggal Semester Empat

Pulang kampungMinggu, 18 Juni 2017. Suatu hal yang sangat menyenangkan bisa menulis dalam perjalanan. Ya, hari ini aku pulang, bukan hanya sekedar pulang seperti biasanya yang bisa kulakukan setiap saat. Mungkin karena faktor bulan puasa dan hampir mendekati hari lebaran yang menjadikan suasana perjalanan terlihat berbeda. Orang-orang sibuk berbicara dengan tema “pulang kampung” dan sibuk membondong barang-barangnya. 

Well, walau tinggal seminggu lagi lebaran paling tidak aku bisa menikmati sisa puasa dengan keluarga, karena sebelum awal puasa sampai sekarang aku sudah mulai benar-benar merindukan rumah. Sebenarnya aku bisa pulang kapan saja, 2 Minggu sekali, 3 Minggu sekali, atau sebulan sekali, tergantung ada celah untuk pulang atau tidak. ‘Cause I know, jarak antara Semarang-Kudus itu juga tidak terlalu memilukan. Paling-paling karena akses perjalanannya saja yang kadang mengecewakan, yang seharusnya hanya menghabiskan 2 jam tapi ternyata menghabiskan 3 jam bahkan lebih. Maklum, bus life.

Tapi bukan, mungkin aku hanya merasa akhirnya beban-beban tugas dan UAS di semester ini akhirnya selesai juga. Walau ketika aku membayangkan apa yang harus aku lakukan pada semester lima nanti justru malah semakin berat. Ada dua hal yang membuatku harus bertanggung jawab di dua tempat yang berbeda. Beberapa target mungkin harus aku tulis lalu kutempelkan di dinding kamar seperti biasanya, biar hidupku jelas. Paling tidak hanya itu yang bisa kulakukan, selama aku belum mengetahui apa sebenarnya mimpiku.

Hasil dari semester empat ini sendiri ada beberapa hal yang berhasil aku capai, malah kadang ada hasil yang tak pernah aku duga sebelumnya, dan aku sangat bersyukur atas hal itu. Banyak hal yang aku lalui juga pengalaman berharga yang aku dapatkan di semester ini. Tapi walau begitu, ada satu hal yang gagal aku lakukan. But it’s Ok. Ini hanya masalah membagi waktu. 

Sebenarnya aku bisa saja pulang lebih awal, karena UAS ku sudah berakhir pada hari Rabu kemarin, tapi karena hari Sabtu aku diajak temanku pergi ke acara reuni akbar di asramaku yang dulu, jadi aku baru bisa pulang hari Minggu. Sebenarnya aku malas hadir, sangat-sangat malas. Dasar masa lalu. Pikirku. Tapi berhubung aku juga belum beres-beres kamar karena semester depan adalah jadwal pindahan kamar di asramaku yang baru ini, jadi sekalian saja.

Hari ini, sebelum pulang.

Temen kamar : “Mbak, jangan lupa aku titip salam iya”.

Aku : “Iyaa, nanti tak salamin bapak ibuku”.

Temen kamar : “Nggakkk… aku nitip salam buat ponakanmu yang cakep itu lho”.

Aku : “Allahuakbar -___-“.

Siapa Namamu?

CerpenMungkin aku memang tak akan pernah mengerti, untuk kedua kalinya dalam persiapan perjalanan pulang aku melihatnya terdiam seorang diri di atas ayunan bangunan historic yang luas itu. Mengayunkan kakinya secara perlahan, seirama dengan kondisi jiwanya. Dengan ke-sok tahuan-ku, sepertinya ia seorang pemburu panorama, terlihat jelas jenis benda apa yang sedang ia bawa. 

Mungkin juga aku tak ingin peduli, sungguh aku tak ingin peduli. Tetapi dengan gaya jiwa dan emosi yang seperti itu sungguh menarik perhatianku. Ada teka-teki yang memang tak akan pernah kumengerti, sendu senja yang menggelitikkan hati. Aku sudah mencoba untuk tidak peduli, aku memilih mengincar pemandangan bangunan yang akan kupotret berkali-kali.

Terdiam menikmati, dan terlihat jelas para pengunjung bersiap untuk kembali sembari mangabadikan senja yang terlihat berbeda kala itu. Tidak usah heran, itulah yang mereka kerjakan, itu kesenangan, itu hobi, mereka tak peduli. Aku tersenyum, kapan lagi bisa bertemu senja seindah ini? Sungguh itu tempat yang menjanjikan.

Sedikit demi sedikit tempat itu mencapai titik kekosongan. Temanku menarik lenganku sambil berlari, memperingatkanku untuk segera turun dari bangunan historic itu. Memang, mendekat adalah sesuatu yang tidak mungkin kulakukan dan menjauh adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam detik menuruni tangga, pikiranku hanya terlintas dengan satu tanya. Siapa namamu?

Semarang, 06/06/2017

APA MIMPIKU?

Dulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, tetapi itupun hanya sebuah pemikiran polos seorang anak MI (SD) yang belum tahu apa-apa. Dulu saya juga pernah sok-sok an memperagakan dan berpenampilan seperti seorang dokter, berpakaian putih-putih bersama teman-teman sepermainan, yang entah akupun tak tahu apa manfaatnya hingga membuatku terkekeh geli jika mengingatnya. Akupun yakin, bocah seumuran SD jika ditanyai soal cita-cita kebanyakan pasti menjawab ingin menjadi dokter kalau tidak iya polisi atau guru, sampai akupun bosan mendengarnya.

Masuk bangku kelas 1 MTs (SMP), saya pernah bermimpi ingin menjadi seorang pelukis, mungkin karena dulu saya dikenal identik dengan seni menggambar, entah dari mana mereka dengan begitu mudahnya mengecapku seperti itu. Katanya, di waktu saya TK, bakat menggambarku memang sudah terlihat (mencorat-coret dinding rumah). Dulu saya juga sempat menekuni seni kaligrafi pada saat kelas 1 MTs, sampai berjuang mengikuti les, tempatnya di sekitar Menara Kudus, sekitar 20 menit an dari rumahku. Tetapi itupun putus ditengah jalan saat aku kelas 2 MTs, karena pada saat itu saya sudah mulai merasa bosan, dari MI-MTs kok kaligrafi terus, ikut ajang perlombaanpun selalu kalah. Ibuku sangat menyayangkan keputusanku itu, tetapi toh semuanya kembali pada pilihan anaknya bukan?

Kelas 3 MTs, mimpiku berubah lagi, dulu saya ingin menjadi seorang PNS. Entahlah, mungkin karena aku terinspirasi dari kakak perempuan saya yang dulu pernah daftar CPNS. Dulu aku hanya berpikiran “Wah, kayaknya enak juga kalo jadi PNS”. Ya pikiranku dulu memang masih cetek, entahlah. Padahal seleksi PNS juga tergolong tidak gampang kan, dulu kakak perempuan saya sampai tes berkali-kali, dan aku tahu itu sungguh melelahkan. Tetapi pada ujungnya kakak saya tidak memilih memperjuangkan PNS itu lagi. Yaps, profesi jangan hanya mengandalkan PNS.

Masuk bangku MAN (SMA), saat itulah dimana diriku mulai mengerti bakat dan potensi tetapi itupun masih dengan ikatan kelabilan. Dulu aku memilih program jurusan Bahasa. Menurutku, jurusan bahasa itu jurusan yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Seni bersastra, seni berdrama, seni belajar dan menggunakan bahasa asing dan berkarya. Anak bahasa juga terkenal kreatif. Aku sungguh sangat tertarik pada saat itu. Zaman MAN itu juga dimana diriku tidak terlalu mementingkan dunia akademik (kepintaran), aku dulu tidak begitu suka belajar, dikelas kebanyakan nggambar, kalau tidak begitu iya ngantuk. Aku lebih condong melakukan hal-hal yang aku suka, dan tak peduli dalam hal menunjukkan kepintaran. Di zaman ini aku bercita-cita menjadi seorang seniman.

Masuk bangku kuliah, who knows? Aku malah masuk jurusan Hukum Pidana. Jauh sekali dari daftar tujuan hidup saya, bagaimana bisa saya memilih ini, di Universitas Islam pula. Dan tahun lalu untuk pertama kalinya aku mencicipi dunia pondok pesantren yang sangat berbeda dengan hidup saya sebelumnya. Tetapi alhamdulillah saya sangat bersyukur sudah pernah dididik dalam penjara suci itu, saya mendapatkan banyak hal dari sana yang belum pernah saya rasakan sebelumnya dalam hidup saya.

So, what’s my aspiration exactly? Sampai saat ini, aku mengatakan “AKU BELUM TAHU”. It’s like, just let it flows.. membiarkan hidupku mengalir seperti air, aku belum sanggup menyetting cita-citaku jauh ke depan. Saya lebih suka merencanakan dan mempersiapkan sesuatu yang memang benar-benar sudah ada di depan mata saya daripada suka bermimpi tinggi yang sebenarnya aku tak mampu untuk melakukannya. Aku tak bisa mengimajinasikan itu.

Tapi…. sebenarnya ada sesuatu yang aku kejar, dan mungkin itu hanya aku yang tahu 😁😛

Semarang, 30 Mei 2017

TRANSFORMING PROBLEMS INTO PERFORMANCE

Problems

Source : Google

Heyho.. heyho.. I’m comebaccck…

Well, in this section I will talking about motivation, hmmm.. what is it?? The undertitled is “Transforming Problems Into Performance” , and the massive sorry if I make you so confused with this written because I wanna try something different on this my post, hehe.. just keep enjoy!

So, let’s get the point!

Well, we know that the problem is life’s title that’s always avoided by many people. People believe that it’s better if the problem is far from their life. Whereas, the purpose of human life’s to overcome or solve problem. And actually, we can take any lesson from the problems by changing it into performance.

  • The first performance is…… Energy frequency, what is it??

I mean here is high energy action. There’s not many people who are able to connect between the quality and quantity of life problem with the energy frequency. Imitating from energy concept in physics : “if there is a problem in life with low energy frequency and increased to high energy, then.. the human can life free from a problem”. So, when people get a problem, they will have strong energy to walk on life and problems will guide us to think critically and able to solve our problems.

  • And the second performance is try to be happy and keep smile. It’s common right?

When we get a problem don’t show the sad face, otherwise.. show the happy face, just feels like there isn’t problems on your life and  you’ll be fine, but I think it’s so difficult for me, wkwk. Look people who can solve their problem by keeping smile, happy and strong, they will get the amazing work’s result because they have strenght to walk on life.

  • And the last performance is use your hidden potential.

Dig your hidden potential guys.. use your talent and show it to the world if you can do. So, don’t let many problems make you give up and make your life is precarious, because you will never get the opportunity and helper.

“Where there is a will, there is a way”

Arika Khoiriya,

Semarang, 18/04/2017

​MELANKOLIA ALAM SEMESTA

Sastra (puisi)

Bumi menangis,

Dengan rasa yang enggan beranjak

Bumi bergetar,

Dengan rasa yang enggan memihak


Dan Langit, 

Dengan lihai tak pernah memaksa angin untuk bicara

Lalu udara,

Dengan lihai tak pernah memaksa bumi untuk bertanya


Dan mentari datang lebih awal

Memaksa bumi untuk melihatnya

Bumi masih menangis 

Dimana kabar itu?


Tapi mentari enggan bicara 

Dan awan enggan menjawab

Langit masih ingin bijak

Tapi bumi mulai beranjak


Udara pun ikut mencoba menjawab

Dari mentari, langit akhirnya bicara 

Hingga akhirnya angin datang 

Bumi tersenyum

Catatan Awal Semester Empat 

Well, welcome semester 4 and welcome asrama baru..!! yipi.. yipi.. gue sekarang jadi anak santri.. (Hahahaha) baca juga : PINDAH

Tapi kalo boleh jujur, walaupun sekarang gue emang resmi mondok, tapi gue nggak suka di bilang santri, NGGAK SUKA. Entah, gue nggak bisa menjelaskan alasannya, gue lebih suka yang biasa saja, tanpa embel-embel.

Well, ternyata pilihan gue untuk mondok ini tepat banget, gue beeeeetah banget, nggak seperti pas ngekos dulu, nggak ada kegiatan justru membuatku awkward banget. Di sini dapat teman-teman baru, orang-orangnya juga enjoy, gue sendiri dapet temen sekamar yang otaknya juga sama gesreknya sama gue, tapi gue lebih sering ngebully dia, hahahaha.

Kuliah gue sendiri sebenarnya udah aktif dari tanggal 1 Maret kemarin. So, untuk saat ini gue lebih fokus kegiatan luar kuliah aja deh, alhasil suka bolos (hahaha). Nggak apa-apa lah, kan Minggu pertama awal semester baru biasanya masih perkenalan kan 😛😛😛hahaha.

Oiya, cerita sedikit tentang acara kemarin di kampus gue, sebuah kegiatan dari organisasi YOUth4Dev

YOUth4Dev

YOUth4Dev Academy Roadshow Semarang

YOUth4Dev is a youth movement platform to raise the awareness of Sustainable Development Goals (SDGs) and to develop youth’s skills. YOUth4Dev Indonesia is organized by YSEALI (U.S.) YOUth4Dev Academy program is aiming to equip Indonesia’s potential young leaders with the knowledge and capacity. Baca lebih lengkap klik disini youth4dev.i

Read more…

PINDAH

Arabic english

Source : google

Setelah resmi lulus dari asrama tahun lalu, saya memang sudah memantapkan untuk memilih kos saja, tidak akan memilih asrama lagi. Pikiran saya pada saat itu masih cetek, pokoknya yang penting ndang cepet keluar, ndang bebas. Maklum, pengalaman pertama kali mondok dan itu adalah salah satu kalimat obsesi dari seorang santri (*abal-abal) yang merasa tersiksa. Tapi bukan, mungkin lebih ke resiko dengan pilihan.

Semester 3, akhirnya saya berubah menjadi anak kos, ada teman yang menyayangkan saya karena memilih ngekos, ada juga yang biasa saja menanggapinya.

Temen : “Arika, kamu sekarang dimana, mondok lagi?”

Aku : “Nggak, aku ngekos ik, didepan kampus.”

Temen : “Yah.. kenapa nggak mondok lagi aja yang ada program bahasanya, eman-eman lho.” (*Yailah perhatian banget sik)

Aku : “Entahlah, ntar aku pikir-pikir lagi, hehe..” (dalem hati : ya soalnya aku pengen merasakan bebas)

Saya menjalani hari-hari dengan biasa, kosnya juga sangat nyaman, dekat kampus and of course Pak Kos yang ramah lingkungan (*telat bayar bulanan pun tidak ditagih, wkwk). Tetapi semakin kesini dan semakin kesana (lho?) Saya mulai merasa jenuh, kenapa? Tidak ada kegiatan! Read more…

ncep's gallery

“Semoga kau mengerti aku lewat caraku memandang dunia. Jadilah mataku saat ini." -Hardiansyah Seftian

A R T I K E L 📌 M A R L Y

A collection of articles that are interesting to read, provide motivation and encouragement for you.

Kunudhani

kumpulan kisah datar anak manusia dan lingkungan disekitarnya.

SHARING IS CARING

" Adult life maybe less dramatic, but fireworks do not keep you warm..."

Hastagdije

Aku tumpahkan kata, Aku buang rasa, Aku peluk segala

Jejakandi

Ketika kembali membaca jejak yang pernah kau tinggalkan, kau merasa ada sesuatu yang telah berubah.

Indonesia

Atribut kontemporer

Pemimpi

Pembicara sebelum tidur

Arika Khoiriya

Catatan Mahasiswi Semester Empat

DiPtra

Hidup Minimalis . Minimalism . a journal

Bima Sakti Notes

Sharing knowledge and information

Lina Karlina

Jadilah diri sendiri yang lebih baik

It's me, Dang Feby

Mencoba berbagi, mencari dan mengeksplorasi

Catatan Kangsole

Tentang semua yang terlintas dan kenangan

The Way I Am

Live everyday as if it was your last

Galeri Puisi

selamat bertandang puan dan tuan, Selamat mengeja!

Kedai Pustaka

Berbagi Informasi Bebas Berguna

sikola cappa' kampong

kalau mereka tidak bisa kenapa kami tidak bisa, kalau mereka bisa kami harus bisa

Muhamad Nasir

Yakin Usaha Sampai..

Bang Ical

bukan siapa-siapa.