Posts from the ‘Hukum’ Category

BUKAN HANYA RAKYAT KECIL, PEJABATPUN BISA JADI KORBAN

Ada rasa sensitif memang ketika kita berbicara mengenai rakyat kecil dan hukum, kenapa masalah-masalah yang sepele harus diurus. Bagi mereka para penegak hukum mungkin berpikiran, apa yang salah? Itu sudah menjadi tugas kami. Bayangkan saja jika kalian berada di posisi seorang hakim, apa harus mereka membuat keputusan sendiri seperti perspektif masyarakat dan mengedepankan opini-opini mereka mengenai penegakan keadilan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh rakyat kecil yang dianggap kurang relevan? Tentu saja itu tidak mungkin. Seperti yang kita ketahui, hukum itu sangat rasional dan hanya akan mengikuti aturan formal, tidak akan bersifat humanis apalagi urusan hati nurani. Apapun alasannya, sekecil apapun bentuk dan tindakannya, jika itu sudah menyentuh Undang-Undang sudah tidak ada lagi harapan.

Hukum juga seperti sudah menjadi korban labeling dari masyarakat dengan julukan “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Oleh karena itu, hukum selalu terkesan negatif di mata kita. Coba kita flashback sebentar dari kasus yang sudah-sudah, seperti kasus nenek Minah yang pernah sangat viral di media, beliau di vonis 1,5 tahun hanya karena mencuri tiga buah kakao yang harganya tidak lebih dari Rp. 10.000. lebih lucunya lagi kasus tentang pencurian sandal jepit yang di lakukan oleh pelajar umur 15 tahun, di Palu, Sulawesi Tengah. Bayangkan, hanya karena sandal jepit, dia di vonis bersalah dan sempat terancam kurungan maksimal lima tahun penjara. Tapi akhirnya dia di bebaskan dari hukuman dan di kembalikan kepada orang tuanya.

Entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh sang pelapor, sehingga masalah sepele itupun harus diurus. Apa mereka terpaksa mengada-ada kasus agar para penegak hukum dapat bekerja, karena jika tidak ada kasus, apa yang mesti mereka kerjakan, ini pun juga hanya perspektif mengada-ada dari saya. Sebenarnya jika saja sang pelapor tidak melaporkan tindak pidana yang dilakukan oleh rakyat kecil itu dan menggunakan sistem kekeluargaan atau cara damai semua masalah sepele itupun akan cepat selesai, tidak ada complain apalagi protes. Kecuali jika pelaku melakukan tindakan pidana tersebut secara terus-menerus dan mulai meresahkan masyarakat lebih baik itu dilaporkan.

Di sisi lain, rakyat kecil yang melakukan perbuatan itu bisa jadi karena faktor keterpaksaan untuk mencari nafkah atau menyambung hidup serta ketidaktahuan bahwa perbuatan tersebut termasuk tindak pidana. Hal itu sungguh memilukan, maka dari itu perlulah diadakannya pendidikan publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hukum, sehingga diharapkan dapat meminimalisir kasus-kasus kecil seperti itu. Dan untuk masalah pencurian sandal jepit, di sisi lain jika masyarakat terus memberikan protes di khawatirkan masyarakat secara tidak sadar mendukung pencurian yang dilakukan rakyat kecil tersebut untuk selalu dibebaskan yang mana dapat membangun generasi anak bangsa melakukan perbuatan mencuri dan itu tidak baik dalam budaya dan penegakan hukum di Indonesia.

Maka dari itu, perlulah reformasi hukum seperti penataan kembali struktur dan lembaga-lembaga hukum yang ada termasuk sumber daya manusianya yang berkualitas, perumusan kembali hukum yang berkeadilan, peningkatan penegakan hukum dengan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hukum, pengikutsertaan rakyat dalam penegakan hukum, pendidikan publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hukum dan penerapan konsep Good Governance. (Baca : Contoh Kasus Hukum di Indonesia Beserta Analisisnya)

Tetapi menurut saya strategi simpel yang sangat mudah dilakukan untuk penegakan keadilan hukum dalam perspektif sosiologi itupun sepele juga sebenarnya. Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, apa susahnya jika pelapor tersebut atau pihak yang mempunyai hak milik perkebunan kakao dan sandal jepit tersebut untuk mengadakan sistem perdamaian atau kekeluargaan, yakni dengan penyelesaian masalah tindakan pidana kecil seperti itu untuk tidak perlu di ekspos hingga tuntutan pengadilan terutama sampai menyebar pada media massa, sesimpel dan semudah itu saja, masalah sepele itu akan selesai. Tapi itupun membutuhkan kesadaran akan humanisme pada diri masing-masing. Dan jika memang rakyat kecil seperti itu tidak tahu-menahu soal hukum, apalagi jika tidak tahu bentuk tindakan pidana itu seperti apa, maka strategi yang tepat ialah mengadakan pendidikan publik kepada masyarakat tentang hukum untuk meminimalisir tindakan pidana kecil.

Sebenarnya bukan hanya masalah rakyat kecil saja yang biasa menjadi korban. Jika kita telaah, pejabatpun juga bisa menjadi korban dari hukum yang direkayasa, apalagi jika motif utama karena persaingan yang entah apa tujuannya. Dari kasus Antasari Azhar misalnya, yang di duga terlibat atas kasus terbunuhnya almarhum Nasrudin Zulkarnaen. Saya memang tidak mengetahui secara spesifik perihal alur kasus ini, dan saya juga tidak ingin menyudut kepada siapa atau siapa, tetapi ketika saya membaca sebuah buku dari Tofik Pram yang berjudul “Antasari Azhar, Saya di Korbankan” itupun sempat membuat saya tercengang tentang dunia hukum, selucu itukah hukum di buatnya, hukum yang seharusnya rasional tetapi di buat seperti panggung teater.

Kasus di rekayasa, tersusun dan terencana sangat rapi, dan banyak kepalsuan dalam proses upaya penegakan hukum hanya karena untuk kepentingan penguasa tertentu, hukum seakan-akan dijadikan alat untuk mengkriminalisasi dan membunuh karakter orang lain. Sekali lagi, tidak bermaksud untuk berpihak pada ini atau itu, saya hanya tercengang perihal kasus yang ternyata bisa direkayasa dan terencana dan serapi seperti itu, tetapi serapi-rapinya dan sepintar-pintarnya rekayasa tersebut pasti kejanggalannya akan tetap terlihat. Membaca kasus Antasari ini sungguh membuat saya seperti membaca komik Conan. Wkwk.

NB : Well, yang lebih tahu tentang hukum mungkin tulisan ini bisa dikoreksi.

Opini Kasus Penanaman Ganja Oleh Fidelis dan Keterkaitan dengan Teori Sosiologi Hukum Klasik Oleh Max Weber

Pada pertengahan bulan Februari kemarin, terdapat kasus oleh Pegawai Negeri Sipil dari Sanggau, Kalimantan Barat, yakni Fidelis Arie Sudarwoto yang ditangkap oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) karena terbukti menanam 39 batang ganja di halaman rumahnya. 

Baca juga : Pro Kontra Legalisasi Ganja Terkait Kasus Fidelis Arie Sudarwoto

Berdasarkan keterangan yang saya dapatkan dari media Metro tv, Fidelis terpaksa menanam ganja dirumahnya dengan alasan untuk pengobatan istrinya yang mengidap penyakit Syringomyelia (kista sumsum tulang belakang). Fidelis mengatakan jika istrinya memang mengalami perkembangan positif selama mengkonsumsi ganja tersebut. Tetapi setelah 32 hari Fidelis ditahan, istrinyapun meninggal karena tidak mendapatkan perawatan secara khusus dari Fidelis. Dari pihak keluarga Fidelispun tidak mengerti bagaimana cara merawat istrinya itu karena Fidelis merawat istrinya dengan cara-cara dan ruangan yang khusus. Untuk mengatur suhu kamarnyapun dengan pengaturan yang khusus dan tidak boleh salah. Dan Fidelis juga meracik sendiri ganja yang digunakan obat tersebut secara khusus.

Dari kasus inipun timbullah berbagai pro kontra legalisasi ganja untuk medis. Di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris ganja dilegalkan untuk kepentingan medis, tapi itupun tetap dengan penjagaan atau pengawasan yang ketat. Di Indonesia sendiri, dari Menteri Kesehatan enggan untuk melakukan penelitian terhadap ganja karena itu pasti akan menghabiskan banyak biaya. Dan jika kita menengok kembali UU Narkotika itupun akan menjadi sulit jika ganja bisa dilegalkan, sebaiknya untuk hal-hal lain saja.

Satu hal lagi yang membuat saya penasaran adalah dengan adanya komunitas LGN (Lingkar Ganja Nusantara). Mereka punya data-data lengkap tentang ganja dan mengapa negara-negara tersebut punya hak untuk meneliti ganja. Mereka juga melakukan pergerakan atau kegiatan positif yang berkaitan dengan ganja. Mereka juga berharap dan mendukung jika ganja bisa dilegalkan untuk hal medis. Tapi walaupun begitu, saya juga belum begitu mengetahui secara spesifik tentang komunitas LGN ini.

Lalu apa hubungannya kasus ini dengan teori sosiologi hukum klasik dari Max Weber? Baik, disini saya akan mengkaitkan kasus ini dengan pernyataan Max Weber yang mengatakan bahwa ada 2 cara untuk mendapatkan keadilan. Yang pertama, dengan berpegang teguh pada aturan hukum, dengan dasar yang benar adalah menyesuaikan diri dengan logika sistem hukum yang bersangkutan. Yang kedua, dengan cara memperhatikan keadaan maksud para pihak dan syarat hukum lainnya. Maka, seorang hakim dapat mengambil keputusan atas dasar aturan-aturan hukum belaka atau setelah dia mendapatkan keyakinan dalam dirinya tentang apa yang sebaiknya diputuskan.

Jadi menurut saya, begitulah hukum Indonesia. Hukum Indonesia akan selalu melihat ke depan dan tidak akan pernah menoleh kebelakang, maksud saya disini adalah hukum di Indonesia itu akan selalu berpegang pada aturan hukum dan rasionalitas Undang-Undang, ini seperti salah satu pernyataan dari Max Weber untuk mendapatkan keadilan yang saya sebutkan diatas. Dan menurut saya, hukum Indonesia itu juga terlihat kaku dan tidak akan pernah bersifat humanis walau sudah ada bukti-bukti dan alasan yang tergolong positif, apapun itu. 

Ganja akan selalu ditolak dengan alasan tetap mengikuti aturan hukum yang ada. Walau bagaimanapun juga Undang-Undang adalah rajanya, Fidelis bisa saja punya alasan menggunakan ganja untuk medis, tapi tetap saja, pada intinya dia menggunakan ganja tersebut dan itu tetap melanggar Undang-Undang. Contoh lain saja kasus pencuria tiga buah kakao. Apakah mereka diberi keringanan hanya untuk hal-hal sepele seperti itu? Tentu saja tidak, mereka tetap disidang. Seorang hakim pasti tetap teguh pada aturan dan rasionalitas Undang-Undang bukan? Tidak ada kata-kata humanis untuk menjalankan hukum. Tidak ada.

Ini cuma opini saya iya readers, jika punya tanggapan silahkan bagikan di komentar.

Pengadilan Niaga Sebagai Lembaga Penyelesaian Perkara Kepailitan dan HaKI (Hak Kekayaan Intelektual)

Heyya Fellas!! Ini adalah bahan materi presentasi gue nanti sore, makul Sistem Peradilan di Indonesia. Mari kita simak bersama-sama.. renungkan.. rasakan.. resapi.. hmm.. (well, gue tahu ini absurd)

Yap, Pengadilan Niaga adalah pengadilan khusus yang dibentuk dilingkungan peradilan umum yang berwenang memeriksa, mengadili, dan memberi putusan terhadap perkara kepailitan dan Penundaan Kewajiban dan Pembayaran Utang (PKPU).

Lalu apa sih itu maksudnya kepailitan? Kepailitan adalah keadaan atau kondisi debitur/seseorang/badan hukum yang tidak mampu lagi membayar utangnya, yang seharusnya bisa ditagih pada waktu tertentu oleh kreditur. Bisa dikatakan perusahaan yang bangkrut.

Terus, Apa itu debitur? Apa itu kreditur?

Oke, debitur adalah pihak yang berhutang ke pihak lain (kreditur), menerima sesuatu dari kreditur  yang dijanjikan debitur untuk dibayar pada masa yang telah ditentukan. Pinjaman juga perlu jaminan dari pihak debitur. Intinya yaa, debitur itu yang ngutang, udah gitu aja.

Sedangkan kreditur itu adalah pihak (bisa perorangan, organisasi, perusahaan, maupun pemerintah) yang memiliki tagihan kepada pihak lain atas kontrak perjanjian. Intinya, kreditur itu yang ngasih utang (Sang Pemberi Pinjaman).

Oiya, pada awalnya Pengadilan Niaga ini emang hanya mengadili perkara kepailitan. Tapi, pada tahun 2001 Pengadilan Niaga ini lebih diperluas lagi, yakni berwenang untuk menangani sengketa-sengketa komersial seperti sengketa di bidang HaKI (Hak Kekayaan Intelektual), seperti Hak Cipta, Merek, Desain Industri, Rahasia Dagang, dll.

Nah, Pengadilan Niaga di Indonesia yang pertama kali dibentuk adalah Pengadilan Niaga di Jakarta Pusat, di Indonesia ada 5 Pengadilan Niaga, yang lainnya ada di Surabaya, Medan, Makassar dan Semarang yang meliputi Provinsi wilayah Jateng dan DIY.

Pembentukan peradilan khusus ini diharapkan dapat menyelesaikan masalah kepailitan secara cepat dan efektif. Dan untuk proses persidangan Pengadilan Niaga ini juga dilakukan secara singkat dan tetap melalui proses jawab menjawab dalam bentuk replik dan duplik seperti pemeriksaan perkara dalam perdata. Pengadilan Niaga juga harus segera mengabulkan permohonan pailit apabila syarat terpenuhi. Syarat-syaratnya apa aja itu?

Saya akan jelaskan menurut Pasal 2 UU Nomor 37 Tahun 2004, syarat-syaratnya sebagai berikut.

  1. Debitur punya 2/lebih kreditor dan tidak membayar lunas, padahal sudah jatuh tempo (intinya gitu) dan itu dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. Permohonan pernyataan pailit bisa dari pihak kreditur atau debitur itu sendiri.
  2. Selain itu, permohonan pernyataan pailit itu juga bisa diajukan oleh kejaksaan untuk kepentingan umum.
  3. Lalu, jika debiturnya itu bentuknya Perusahaan Efek, Bursa Efek, Lembaga Penyimpanan dan Penyelesaian, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal.
  4. Dan jika debiturnya itu bentuknya seperti Perusahaan Asuransi, Dana Pensiun atau BUMN, permohonan pernyataan pailit hanya dapat diajukan oleh Menteri Keuangan.

Jadi guys.. PESAN MORAL gue dari materi ini adalah JANGAN SUKA NGUTANG! hahahahahaa. Iya masa nanti pas presentasi gue bilang gitu, anak hukum tapi kok absurd banget kwkwk.

Well, sekian dulu dari saya untuk postingan kali ini, semoga hari-hari anda semua lancar dan menyenangkan, amin.. Wassalam. *wushhhhhh..*

Pro Kontra Legalisasi Ganja Untuk Medis, Terkait Kasus Fidelis Arie Sudarwoto 

Well, sekarang gue lagi tertarik-tertariknya dengan berita kasus penanaman ganja oleh Fidelis Arie Sudarwoto, yakni warga Sanggau, Kalimantan Barat yang ditangkap pada pertengahan Februari kemarin. Dia terbukti memiliki 39 batang ganja yang dia tanam di depan halaman rumahnya.

Berdasarkan berita yang gue baca, Fidelis Arie terpaksa menanam ganja dirumahnya buat pengobatan istrinya Yeni Riawati (Almh) yang mengidap penyakit Syringomyelia (kista di sumsum tulang belakang). Katanya sih, selama mengkonsumsi ganja, istrinya emang mengalami perkembangan positif gitu, tapi sebelum istrinya sembuh, tet tot.. doi udah keburu diambil polisi dan istrinyapun meninggal, karena selama 32 hari itu Fidelis sudah ditahan.

Lagian, berdasarkan hasil pemeriksaan, Fidelis sendiri nggak mengkonsumsi ganjanya kok, apalagi menjualnya. Hmmm.. Nah, gara-gara berita ini juga, gue jadi tahu kalo ganja itu ternyata bisa dijadiin obat lho. Apa??! Obat??! Itu kan narkoba?! Yaps.. buat keperluan medis. Kalo penasaran alasannya kenapa, baca ini deh Kandungan Ganja

Lhah.. di Amerika dan Inggris sendiri, ganja udah digunakan sebagai bahan industri medis, kalo di China dan Jepang, disana ganja digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik dan tekstil, gokiiil. Emang iya, kalo orang-orang sana tuh nggak main-main soal penelitian.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2014, dari pihak Yayasan Sativa Nusantara pernah mengajukan surat izin penelitian terhadap ganja kepada Kementerian Kesehatan. Tapiii hmm.. penelitian sampai sekarang belum dilakukan karena dari pihak Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) sampai sekarang belum membentuk tim peneliti. *apaan* 

Dari Menteri Kesehatan sendiri, Bu Nila F. Moeloek malah bilang kalo belum pernah mendengar bahwa kementrian yang ia pimpin memberikan izin untuk melakukan penelitian terhadap ganja sebagai obat, tapi mau di cek lagi gitu katanya. *ayo dong Bu menteri -_-* 

Dan dari pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) sendiri menyuruh publik untuk menengok UU narkotika kembali. BNN menyangkal terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa istrinya Fidelis meninggal gara-gara tidak mendapatkan pengobatan dari ganja.

Yap, begitulah hukum Indonesia, hukum Indonesia akan selalu melihat ke depan dan tidak akan pernah melihat ke belakang. Hukum Indonesia akan selalu kaku, dan tidak akan pernah bersifat humanis walau sudah ada bukti-bukti nyata sekalipun. *Entahlah, tapi.. begitulah hukum*

Dan sekarang, ganja masih dijadikan dilema. Kalo di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris, ganja sudah terbukti bermanfaat buat medis, kenapa disini slow banget menentukan penelitiannya. Yah.. mau meneliti tapi dibatasi dengan regulasi. Dari kasus Fidelis ini, menurut gue, seakan-akan dia mau memberitahu kalo ganja itu ternyata mempunyai manfaat untuk medis, tapi.. iya begitulah, walau bagaimana pun juga, UU adalah rajanya, salah nggak salah, tetap ditahan.

Jadi, menurut pendapat kalian, apa kalian setuju jika ganja dilegalkan untuk kepentingan medis atau menolaknya dengan alasan tetap mengikuti aturan hukum yang ada???.

Mata Kuliah Viktimologi

Viktimologi

Dosen viktimologi gue, gambar bisa saja mengandung hak cipta jahaha

Yeah ini adalah salah satu mata kuliah yang menarik perhatian gue. Hmm apa itu viktimologi? Apa iya, apa hayoo.

Well, viktimologi terdiri dari 2 kata, yakni “viktima” (bahasa latin) yang artinya korban dan “logos” yang artinya ilmu. Hmm udah tau maksudnya lah iya.

Dari Dictionary of Crime mengartikan viktim sebagai orang yang mendapatkan penderitaan fisik, penderitaan mental, penderitaan harta atau bahkan kematian atas perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.

Lalu menurut A. Mustofa (siapa ini? Gatau, pokoknya gue ndengernya gitu tadi dari dosen 😛), viktimologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari kedudukan dan peran korban kejahatan. Ilmu ini sangat perlu kita pelajari karena bla bla bla ble ble ble gitu deh tadi, jahahahah bodoamat.

Sedangkan menurut Bu Brillian (dosen gue sendiri). Viktimologi diartikan dalam 2 segi, yaitu luas dan sempit. Maksudnya yang luas dan sempit itu gimana iyaaa??? *Garuk-garuk pantat* Well.. viktimologi dalam arti luas maksudnya itu korban antara publik dan perusahaan atau juga bisa dengan pemerintah. Misalnyaa.. korban penggusuran, korban korupsi (kita? Haha), korban pencemaran lingkungan, korban perasaan? (lho? O.O) dan lain sebagainya.

Terus yang viktimologi dalam arti sempit itu gimana maksudnya vrooooh?? *Baca buku dong!!* Hmmm ini maksudnya korban kejahatan dalam hubungan personal, Misalnyaa.. korban pembunuhan, pencopetan dll.

Kata kunci : 

1. Luas      = Publik-Pemerintah    

2. Sempit = Personal-Personal

ISTILAH-ISTILAH VIKTIMOLOGI.

  • Pengalaman viktimisasi, yaitu pengalaman jadi korban kejahatan.
  • Viktimisasi, yaitu faktor yang mempengaruhi pengalaman viktimisasi.
  • Viktimisasi berganda, yaitu sebuah pengulangan atau peningkatan viktimisasi. Contohnya : dipalakin preman terus dipasar, jiahahah.
  • Viktimisasi berkelanjutan, mmm.. langsung contohnya aja iya, haha. misalnya pencemaran lingkungan, yang rumahnya deket pabrik semen misalnya atau pabrik apalah-apalah itu kan bisa setiap hari (berkelanjutan) kena dampaknya. Kasian banget iya. Jiah..

So.. kalo anda-anda sendiri, apa pernah punya pengalaman viktimisasi?? Atau pernah melihat pengalaman viktimisasi dilingkungan sekitar anda?? Misalnya korban copet, korban pembunuhan, korban penculikan, korban pencemaran lingkungan, korban tilang??!!! *Hahahahah


Life - Science - Islam

Mengasah mata hati dengan segala kerendahan

Kemarin Sore

Dekati Penciptanya Baru Dekati Ciptaannya

CatherineAry

whatever you are, be a good one

[ DIARY NETIZEN ]

Smart think

Erna Blog's

Art is My Life

BatopieBlog

Ngeblog dengan Secangkir Susu Kopi

Insyirahsyah Habibie

a way - a note - a learn

PULAU SERIBU :: WISATA KEPULAUAN SERIBU

Wisata Kepulauan Seribu - Daftar Lengkap Paket Harga Promo Wisata Pulau Seribu Jakarta. Untuk informasi lengkap, segera hubungi kami. +628561465377 / 087780558037. Paket Meeting | Paket Outing | Paket Outbound | Paket Family Gathering.

#saungtintajalanan

memaknai goresan makna asam basa kehidupan

wanitaperindupagi

serangkaian kata yang memiliki makna

Catatan Busuk

Biarkan tulisanku dalam kesendirian. Lalu membusuk dalam kesempurnaan.

Joy of Life

"Enjoy Life. This is not a dress rehearsal."

Gusti 'ajo' Ramli

Segenggam garam terasa asin, jika berton-ton akan terasa manis.

Susleni

Menelusuri jalanan dengan perlahan

idanursilawati

Setiap langit berhak memilih bintangnya masing masing

Coretan Kecilku

Whatever you are, be a good one

Hey "Ode"

"Memacalah, agar hidup mu lebih bermakna"

Suara Pikiranku

Belajar Menulis