Search

Arika Khoiriya

My Journey

Category

Cerpen

Masak Mie Instan Antimainstream

Gara-gara ada long weekend, hampir semua anak kontrakan kemarin memutuskan untuk pulang kampung. Sebenarnya setelah pulang dari PPL saya juga sudah siap-siap packing pulang ke Kudus. Tapi saya masih santai-santai saja dulu sembari melihat keributan teman-teman saya yang mau balik ke peradabannya masing-masing.

Ada teman saya Eka, yang mau pulang ke Pekalongan, Farchi pulang ke Kendal, Iqbal pulang ke Tegal, Iftah dan Novi yang pulang ke Semarang aja (kos). Kemudian disusul Roshif, Nefi dan Abror yang juga balik ke Semarang. Tinggal Saya, Faza, Rizza, dan Wahib yang masih mantengin kontrakan. 

Kemarin saya sudah nyiapin tas ranselku dan sudah pakai jaket. Tapi setelah turun dari kamar dan melihat kenyataan yang berada diluar ternyata hujannya deras. Saya nungguin sampai Ashar bersama teman-teman saya di ruang tamu masih aja nggak reda-reda, nungguin lagi sampai jam 4 masih juga nggak ada habisnya itu air, sampe jam 5 sore aku pantengin terus itu hujan dan hasilnya haddehhh.. 

Gagal Pulang“.

Lalu salah satu teman saya berceloteh,

Wahib : “Buat Mie enak kiii”..

Yah, karena gagal go home apalagi keadaan sedang hujan. Alhasil kita semua berasa laper dan akhirnya pada beli Mie Instan di warung depan (andalan setiap kendala).

Nah, waktu habis Maghrib ketika kami mau masak mie sama-sama di dapur, saya melihat ada hal aneh yang dilakukan teman saya “Faza”.

Masak mie instan antimainstream
Kelakuannya Faza saat di dapur

Saya dan Rizza mlongo..

Aku : “Lho Za, kok plastik bungkusnya ngapain kamu cemplungin ke wajan juga..” (mlongo)

Rizza : ” Iyo Za, kok gitu za..” (mlongo)

Faza : “Iya, aku kek gini masaknya, kalo mie nya banyak, jadi aku bolong dikit tu bungkus langsung cemplungin ke wajan, nanti kalo udah mateng air yang masuk dibungkusan itu dibuang lalu mie nya taruh di piring, jadi nggak ribet. Di warung-warung juga katanya ada yang seperti ini. Jadi malu aku kan masaknya gini, udah kalian pergi aja dari dapur.. hahaha (isin).

Aku dan Rizza saling berpikir dan keheran-heran. Lalu tiba-tiba ngakak bersama. Teman saya Wahib nggak terlalu heran, karena sudah melihat hal seperti itu sebelumnya, tapi tetap aja ngakak.

Rizza : “Eh Khoir.. mending iki to foto terus dadikke story, hahahahhahaa”.

Aku : “Iyo iki wkwkwk”

Faza : “Hahasemm.. jahat koe koe kii..”

Lalu teman-teman saya rame komen di WhatsApp : “eh apa-apaan..” “maksutee..” “piye kui..” “hee bisaneeee” wah, antimainstream..” etc.

Jadi seperti itulah ceritanya kenapa bisa bungkus mie instan itu bisa di cemplungin juga di wajan. Hahaha.

NB : JANGAN COBA-COBA MENIRU. 

Advertisements

Cerita Senja

CerpenMungkin aku memang tak akan pernah mengerti, untuk kedua kalinya dalam persiapan perjalanan pulang aku melihatnya terdiam seorang diri di atas ayunan bangunan historic yang luas itu. Mengayunkan kakinya secara perlahan, seirama dengan kondisi jiwanya. Dengan ke-sok tahuan-ku, sepertinya ia seorang pemburu panorama, terlihat jelas jenis benda apa yang sedang ia bawa. 

Mungkin juga aku tak ingin peduli, sungguh aku tak ingin peduli. Tetapi dengan gaya jiwa dan emosi yang seperti itu sungguh menarik perhatianku. Ada teka-teki yang memang tak akan pernah kumengerti, sendu senja yang menggelitikkan hati. Aku sudah mencoba untuk tidak peduli, aku memilih mengincar pemandangan bangunan yang akan kupotret berkali-kali.

Terdiam menikmati, dan terlihat jelas para pengunjung bersiap untuk kembali sembari mangabadikan senja yang terlihat berbeda kala itu. Tidak usah heran, itulah yang mereka kerjakan, itu kesenangan, itu hobi, mereka tak peduli. Aku tersenyum, kapan lagi bisa bertemu senja seindah ini? Sungguh itu tempat yang menjanjikan.

Sedikit demi sedikit tempat itu mencapai titik kekosongan. Temanku menarik lenganku sambil berlari, memperingatkanku untuk segera turun dari bangunan historic itu. Memang, mendekat adalah sesuatu yang tidak mungkin kulakukan dan menjauh adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam detik menuruni tangga, pikiranku hanya terlintas dengan satu tanya. Siapa namamu?

Semarang, 06/06/2017

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑