Posts from the ‘Cerita’ Category

Seminar Regional Class; How To Be Digital Citizen Journalist

Pada bulan November lalu saya sering mengikuti seminar tentang dunia jurnalis, sejak saya mengetahui event Citizen Journalist Academy membuka workshop dan audisi di Semarang saya jadi penasaran dengan dunia wartawan. So, kali ini saya ingin membagi isi materi dari salah satu seminar yang saya ikuti satu bulan yang lalu. Walaupun tidak begitu lengkap, mungkin saja bisa bermanfaat.

Seminar ini adalah sesi Regional Class yang merupakan program para finalis Citizen Journalist Academy Semarang yang mengusung tema How To Be; Digital Citizen Journalist, seminar ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 November 2017 pukul 15.00 WIB bertempat di Ruang Seminar Gedung Pusat Lantai 2 Universitas PGRI Semarang. Pematerinya adalah Muhammad Syukron (Jurnalis Suara Merdeka) dan Edhie Prayitno Ige (Jurnalis Liputan6.com).

Seminar Citizen Journalist Academy Semarang

Pak Edhie Prayitno (Jurnalis Liputan6.com) saat menjelaskan materi di Gedung Pusat UPGRIS

So, ketika kita ingin menulis berita ternyata ada 3 unsur selain 5 W + 1 H gaes, namanya 3 E + 1 N, what’s that?

  1. Educating (mendidik)
  2. Enlightening (mencerahkan)
  3. Empowering ( memberdayakan)
  4. Nasionalisme (kebangsaan/NKRI)

Ketika acara berlangsung pemateri lebih suka sharing pengalaman daripada fokus pada materi. Dari Muhammad Syukron misalnya, seorang jurnalis Suara Merdeka yang mengawali hidupnya dibidang menulis dengan sering mengikuti lomba dan suka mengirim tulisan cerpen dan puisi ke majalah Aneka. Beliau juga sempat bercerita bahwa karena zaman dulu itu belum ada handphone, jika ada orang yang suka dengan tulisan beliau orang itu harus datang ke redaksi Aneka dulu lalu baru bisa mendapatkan alamatnya beliau.

And then, saya juga ingat satu pertanyaan dari mahasiswa pers pada saat itu, dia bertanya tentang saat perwakilan dari sebuah LPM ingin melakukan wawancara tetapi ditolak dan dilarang, menurutnya LPM seperti tidak ada kebebasan atau wewenang untuk melakukan suatu wawancara, padahal mereka juga berusaha mencari berita. Lalu Pak Edhie Prayitno (jurnalis Liputan6.com) menjelaskan bahwa “ketika kita ingin wawancara di sebuah tempat yang rawan misalnya, usahakan tidak usah membawa nama LPM segala atau pers apapun itu, ngobrol biasa saja dengan santai, pakaiannya juga tidak usah formal, yaa nyamar saja seperti pengunjung atau orang-orang lainnya, karena dari ngobrol itu justru kalian bisa dapat data banyak, saya saja sering hanya memakai sandal jepit dan celana pendek kok ketika terjun dilapangan”.

Well, saya jadi ingat waktu saya mengunjungi open perdana Wisata Pasar Karetan di Kendal, untuk mendapatkan informasi saya harus membeli jajanan sembari ngobrol pada salah satu pedagang Pasar Karetan, setelah bertanya ini dan itu dengan salah satu pedagang, alhasil saya berhasil mendapatkan banyak informasi. 

Saya memang bukan anak LPM sih, karena dulu saya pikir genre (kiblat) LPM kampus saya itu pasti itu-itu mulu. Saya yang lebih suka menulis dengan bahasa ringan dan fun sepertinya tidak cocok untuk masuk di sebuah LPM. Jadinya sampai sekarang saya masih suka ngeshare pengalaman pribadi saya kepada teman sesama bloger buat dibaca dan yang terpenting itu buat melatih menulis. Karena jujur saja, saya masih kesulitan mencari waktu untuk bisa disiplin menulis, dan kadang tidak bisa cepat dan tepat waktu menulis setelah mengikuti event-event tertentu, padahal ingin sekali membagikan informasi secara up to date, tetapi susah juga. 

Advertisements

A Great Day; Workshop Citizen Journalist Academy

Citizen Jounalist Academy

Saat berlangsungnya acara sesi pertama Citizen Journalist Academy di Gedung Balaikota Semarang

Semarang, 03/08/2017 – Acara yang dipersembahkan oleh Indosiar, liputan6.com dan Pertamina ini telah menarik perhatian ratusan mahasiswa dan pelajar di Kota Semarang, Jawa Tengah. Well, kenapa tidak? Karena acara ini cukup bergengsi untuk kalangan yang ingin terjun di dunia jurnalis, seperti wartawan, reporter, kameramen dan presenter. 

Well, pada hari itu gue hanya mengikuti workshopnya saja karena tidak tertarik untuk mengikuti audisi, lebih tepatnya sadar diri atas kemampuan, tapi dari dulu gue memang sudah penasaran tentang dunia jurnalis dan media sih. Yah, itung-itung nambah pengalaman dan wawasan, bersyukur sekali bisa mengikuti workshop tersebut langsung dari para presenter Indosiar. Audisi itu sendiri dilaksanakan di 3 kota, yakni Jakarta, Semarang dan Balikpapan. Pada masing-masing kota hanya membutuhkan 30 finalis untuk siap di adu di Jakarta. 

Ketika gue bertanya pada temen gue yang berasal dari UNDIP perihal kenapa iya mereka hanya memilih 3 kota itu, kemudian dia beralasan bahwa memilih Jakarta itu ya harus sudah pasti lah, kalau Semarang mungkin letaknya ditengah-tengah, jadi lebih mudah untuk di jangkau, dan yang terakhir memilih Balikpapan mungkin karena disitulah tempatnya Pertamina. Yahhh, anggap saja jawaban ini lumayan logis yak.

Acara inipun dilaksanakan dengan 3 sesi. Sesi pertama adalah Journalism and Media Class, yakni mengenai bagaimana sih caranya bisa menghasilkan news media content yang kreatif, sesi ini disampaikan langsung oleh para presenter Indosiar. 

Sesi kedua adalah Creative Energy Class, yakni bagaimana sih caranya melakukan tindakan energi kreatif yang bermanfaat untuk negeri. Sesi ini disampaikan langsung oleh M. Alfatih Timur (CEO dan CO Founder KitaBisa.com) dan Aditya Wira Santika (Investor Relations Pertamina).

Dan sesi ketiga adalah Career Class, yakni bagaimana sih caranya memulai karir di dunia industri media yang mana menurut gue ini adalah sesi yang paling penting dan bikin penasaran. Di sampaikan langsung oleh Desita Tambunan (HR Talent Acquisition SCTV & Indosiar) dan Ryan Wiedaryanto (News Manager Presenter & Creative Presentation Indosiar).

Well, mungkin hanya itu yang bisa gue sharing kali ini yak, sepertinya tahun depan acara ini akan dilaksanakan kembali, cocok banget nih buat yang bener-bener ingin terjun di dunia jurnalis.

Cerita Konyol Tentang Ormas Yang Sudah Di Bubarkan

Well, kali ini gue mau menceritakan pengalaman geblek gue tentang ormas yang sudah dibubarkan atau sebut saja HTI. 

Kejadian ini kalau tidak salah pas gue masih semester tiga kemarin. Yang kuingat pokoknya gue perginya pas hari Minggu, soal bulan dan tanggalnya gue lupa.

Well, beberapa hari sebelum kejadian itu ketika gue sedang asyik berjalan pulang menuju kos yang tepatnya berada di depan kampus (tapi sekarang gue sudah pindah) gue bertemu dengan salah satu teman organisasi gue, anak fakultas sebelah. Awalnya cuma niat nyapa-nyapa doang sih, eh tapi kok pas gue perhatiin bener-bener dia sibuk nyebarin pamflet acara Kongres Mahasiswi Islam gitu. Dan gue termasuk yang menjadi korban sasarannya.

D : “Mbak ikut acara ini yak di U****”.

A : “Hah, acara apaan ini dek”.

D : “Acara Kongres Mahasiswi Islam, nanti mbak hubungin aku aja deh, kalo mbak jadi besok kita berangkat bareng”.

A : “Oke deh, duluan yak”

Nah, berhubung weekend kali itu gue nganggur plus ditinggal pergi acara makrab sama teman sekamar. Tiba-tiba gue penasaran lagi sama pamflet yang diberikan teman gue. Pun di dukung dengan rasa penasaran kampus U**** itu seperti apa, jadi malam Minggu itu juga gue memutuskan untuk ikut.

Gue sebenarnya juga nggak tahu sih itu acara seperti apa, ya pokoknya Kongres Mahasiswi Islam gitu deh, gue nggak mau kebanyakan mikir apalagi merenung. Niat gue cuma mau maen ke U****, udah gitu aja. Soal acara itu mah gue rada bodoamat.

Alhasil, kita berangkat berempat, yang pasti salah satunya adalah teman gue yang sudah nyebarin pamflet. Well, setelah sampai di U****, baru mau masuk gedungnya aja perasaan gue pada saat itu sudah mulai merasa nggak enak. Dalam hati gue timbul berbagai pertanyaan kok gini iya, kok gitu iya. Shit!! Semoga gue nggak salah acara!

Sampai di titik pertengahan acarapun gue baru bener-bener yakin kalo gue emang salah masuk acara! Awalnya gue santai aja, tapi pas gue perhatiin busananya kok pada gede-gede gini yak, panjang-panjang bener dah. Lha gue yang tipe casual dan nggak muslimah-muslimah amat jujur itu bikin gue nggak nyaman.

Awalnya gue juga santai aja, tapi pas lihat pembukaan acara yang kayak parade mutar-muter sambil megangin bendera hitam bertuliskan “laailahaillallah” yang menurut gue itu serem banget. Gue jadi mulai ilfeel sama forum tersebut.

Awalnya gue juga santai aja, tapi setelah melihat video yang ditayangin di LCD, gue langsung sadar kalau itu sudah mulai beraroma radikal. Awalnya gue juga santai aja, tetapi setelah gue cari tahu tentang Hizbut Tahrir Indonesia itu apaan, GUE BARU TAHU KALO TERNYATA GUE MASUK FORUM RADIKAL! GUE SALAH MASUK ACARA BEGOKK!!

Bener-bener vekok, gue bener-bener speechless pada saat itu, kenapa gue nggak tanya dulu sih sama temen gue yang ngerti kek ginian, ini acara apaan, tapi ya mana gue tahu yak, orang niatnya cuma maen ke U****. Bah, savage bener dah!

Terus gue mencoba bertanya ke salah satu teman gue tadi, dan ternyata DIA JUGA NGGAK TAHU HTI TU APA!!! Begok semua dah. Tapi gue yakin, dua temen gue yang lain itu pasti udah paham acara apa itu, dan apa HTI itu, tapi pada saat itu gue berpura-pura tetap baik-baik aja, gue berusaha tetap tenang dan diem aja, gue harus menahan situasi kamvret itu sampai acara selesai.

Yang jelas, kejadian konyol itu gue jadikan pengalaman berharga, karena acara itu juga gue jadi tahu HTI itu apa. Jadi tahu ormas-ormas yang radikal itu yang mana aja, lumayan buat nambah pengetahuan tentang radikalisme. BIAR NGGAK SALAH MASUK FORUM LAGI!!

Dan dari kekonyolan itu juga, gue masih nggak nyangka gue bisa sebegok itu. Pas gue ceritain kejadian itu ke temen gue di perpus, dia tiba-tiba nyodorin buku tentang radikalisme buat ngeyakinin gue, dan emang bener HTI adalah salah satunya. Gue semakin merasa tambah begoook. Kenapa gue bisa nggak tahu sih hal-hal seperti ini, atau mungkin gue terlalu asik memikirkan teknik menggambar yang bener itu seperti apa, sampe gue nggak tahu apa itu HTI. Ah, yang jelas itu pengalaman dan juga pelajaran bagi gue. BIAR NGGAK BEGO.

Gania, Vokalis Jebolan Band Indie

Gania Alianda

Source : instagram/ganialianda

Yo! Kali ini saya mau membahas tentang siapa sih Gania? Siapa yak? Karena banyak juga temen yang nanya perihal status-status di beberapa akun saya yang menyebut kata ‘Gania’ melulu, siapa sih memang, layaknya misteri. Bah. (Makanya hidup jangan hanya mantengin kitab kuning sama buku mulu, kan jadi nggak tahuan!! *Lho?). Maaf iya, sepertinya artikel ini memang tidak terlalu penting untuk dibaca oleh kalangan akademisi apalagi pemerintah.

Just have fun!

Yaps, Gania Alianda. Dia adalah seorang vokalis band indie asal Bandung ‘Billfold’ yang bergenre hardcore (kalau tidak salah yak). Sebenarnya menurutku suaranya Gania ini biasa saja, menang stylenya doang menurutku (maafkan aku mbak Gania). Yea paling suka ketika gania nyanyi lagunya yang akustik. Lagian aku juga tidak terlalu ngefans sama bandnya. *Lahh terus 😲 karena apa iya, entahlah.

She’s Lady Rocker.

Ketika pertama kali lihat Gania, ini cewek keren banget tidak seperti cewek-cewek lainnya yang it’s so menye-menye. Entahlah, baru kali itu aku menemukan wanita yang seperti itu. Beda dengan yang lain. So inspire lah intinya. Selain sibuk dengan dunia musik manggung sana-sini dia juga seorang usahawan muda dengan mendirikan sebuah butik. Hasil produknya sekilas ketika saya perhatikan di akun resmi instagramnya sudah sampai luar negeri. Menurut saya dia orang yang kreatif, karena dulu dia lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual (Desain Grafis), jurusan yang dulu saya ingin masuki 😭

Pernah suatu ketika saya mendapat kabar jika Billfold akhirnya konser ke Semarang, APAA??!! Iyaa kalau tidak salah itu pas semester tiga kemarin. Saya jerit-jerit histeris di depan teman saya, Puspita.

Alhasil.

AKU NGGAK JADI NONTON, DAN NGGAK KETEMU MBAK GANIA!😭 Beneran, padahal itu kesempatan saya untuk bertemu dengan Gania. Hadeh tehhh semoga kita bisa bertemu lain waktu entah kapan dan dimana itu yak. Amin.

Yaudah Selamat malam 😭


Cerita Senja

CerpenMungkin aku memang tak akan pernah mengerti, untuk kedua kalinya dalam persiapan perjalanan pulang aku melihatnya terdiam seorang diri di atas ayunan bangunan historic yang luas itu. Mengayunkan kakinya secara perlahan, seirama dengan kondisi jiwanya. Dengan ke-sok tahuan-ku, sepertinya ia seorang pemburu panorama, terlihat jelas jenis benda apa yang sedang ia bawa. 

Mungkin juga aku tak ingin peduli, sungguh aku tak ingin peduli. Tetapi dengan gaya jiwa dan emosi yang seperti itu sungguh menarik perhatianku. Ada teka-teki yang memang tak akan pernah kumengerti, sendu senja yang menggelitikkan hati. Aku sudah mencoba untuk tidak peduli, aku memilih mengincar pemandangan bangunan yang akan kupotret berkali-kali.

Terdiam menikmati, dan terlihat jelas para pengunjung bersiap untuk kembali sembari mangabadikan senja yang terlihat berbeda kala itu. Tidak usah heran, itulah yang mereka kerjakan, itu kesenangan, itu hobi, mereka tak peduli. Aku tersenyum, kapan lagi bisa bertemu senja seindah ini? Sungguh itu tempat yang menjanjikan.

Sedikit demi sedikit tempat itu mencapai titik kekosongan. Temanku menarik lenganku sambil berlari, memperingatkanku untuk segera turun dari bangunan historic itu. Memang, mendekat adalah sesuatu yang tidak mungkin kulakukan dan menjauh adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam detik menuruni tangga, pikiranku hanya terlintas dengan satu tanya. Siapa namamu?

Semarang, 06/06/2017

APA MIMPIKU?

Dulu saya pernah bercita-cita ingin menjadi seorang dokter, tetapi itupun hanya sebuah pemikiran polos seorang anak MI (SD) yang belum tahu apa-apa. Dulu saya juga pernah sok-sok an memperagakan dan berpenampilan seperti seorang dokter, berpakaian putih-putih bersama teman-teman sepermainan, yang entah akupun tak tahu apa manfaatnya hingga membuatku terkekeh geli jika mengingatnya. Aku juga yakin, bocah seumuran SD jika ditanyai soal cita-cita kebanyakan pasti menjawab ingin menjadi dokter kalau tidak iya polisi atau guru, sampai akupun bosan mendengarnya.

Masuk bangku kelas 1 MTs (SMP), saya pernah bermimpi ingin menjadi seorang pelukis, mungkin karena dulu saya dikenal identik dengan seni menggambar, entah dari mana mereka dengan begitu mudahnya mengecapku seperti itu. Katanya, di waktu saya TK, bakat menggambarku memang sudah terlihat (mencorat-coret dinding rumah). Dulu saya juga sempat menekuni seni kaligrafi pada saat kelas 1 MTs, sampai berjuang mengikuti les, tempatnya di sekitar Menara Kudus, sekitar 20 menit an dari rumahku. Tetapi itupun putus ditengah jalan saat aku kelas 2 MTs, karena pada saat itu saya sudah mulai merasa bosan, dari MI-MTs kok kaligrafi terus, ikut ajang perlombaanpun selalu kalah. Ibuku sangat menyayangkan keputusanku itu, tetapi toh semuanya kembali pada pilihan anaknya bukan?

Kelas 3 MTs, mimpiku berubah lagi, dulu saya ingin menjadi seorang PNS. Entahlah, mungkin karena aku terinspirasi dari kakak perempuan saya yang dulu pernah daftar CPNS. Dulu aku hanya berpikiran “Wah, kayaknya enak juga kalo jadi PNS”. Ya pikiranku dulu memang masih cetek, entahlah. Padahal seleksi PNS juga tergolong tidak gampang kan, dulu kakak perempuan saya sampai tes berkali-kali, dan aku tahu itu sungguh melelahkan. Tetapi pada ujungnya kakak saya tidak memilih memperjuangkan PNS itu lagi. Yaps, profesi jangan hanya mengandalkan PNS.

Masuk bangku MAN (SMA), saat itulah dimana diriku mulai mengerti bakat dan potensi tetapi itupun masih dengan ikatan kelabilan. Dulu aku memilih program jurusan Bahasa. Karena menurutku, jurusan bahasa itu jurusan yang mempunyai nilai seni yang tinggi. Seni bersastra, seni berdrama, seni belajar dan menggunakan bahasa asing dan berkarya. Anak bahasa juga terkenal kreatif. Aku sungguh sangat tertarik dengan jurusan bahasa pada saat itu. Zaman MAN itu juga dimana diriku tidak terlalu mementingkan dunia akademik (kepintaran), aku dulu tidak begitu suka belajar, dikelas kebanyakan nggambar, kalau tidak begitu iya ngantuk. Aku lebih condong melakukan hal-hal yang aku suka, dan tak peduli dalam hal menunjukkan kepintaran. Di zaman ini aku bercita-cita menjadi seorang WARTAWAN.

Masuk bangku kuliah, who knows? Aku malah masuk jurusan Hukum Pidana. Jauh sekali dari daftar tujuan hidup saya, bagaimana bisa saya memilih ini, di Universitas Islam pula. Dan tahun lalu untuk pertama kalinya aku mencicipi dunia pondok pesantren yang sangat berbeda dengan hidup saya sebelumnya. Tetapi alhamdulillah saya sangat bersyukur sudah pernah dididik dalam penjara suci itu, saya mendapatkan banyak hal dari sana yang belum pernah saya rasakan sebelumnya dalam hidup saya.

So, what’s my aspiration exactly? Sampai saat ini, aku mengatakan “AKU BELUM TAHU”. It’s like, just let it flows.. membiarkan hidupku mengalir seperti air, aku belum sanggup menyetting cita-citaku jauh ke depan. Saya lebih suka merencanakan dan mempersiapkan sesuatu yang memang benar-benar sudah ada di depan mata saya daripada suka bermimpi tinggi yang sebenarnya aku tak mampu untuk melakukannya. Aku tak bisa mengimajinasikan itu.

Tapi…. sebenarnya ada sih, dan mungkin itu hanya aku yang tahu 😁😛

Semarang, 30 Mei 2017

ICE BREAKING PADA SAAT PRESENTASI

Dear all members of WordPress site, kali ini gue mou ngeshare tentang Ice Breaking lho. Karena kemarin gue sempet dibuat penasaran sama temen gue. Pasalnya, ketika temen gue itu mau maju presentasi, dia punya ide untuk nyuguhin Ice Breaking dalam presentasinya biar nggak krik-krik gitu katanya, dan bisa ngidupin suasana. Dan katanya siiih, Ice Breaking itu bisa melatih otak kanan kita.

So, apa siiih itu Ice Breaking?? Udah pada tahu belum?? Hayoo.. Es pecah atau gimana sih?? Sejenis minuman kah?? Wkwk parah deh parah.. salah semua booyy. 

Well.. intinya itu, Ice Breaking adalah semacam games atau permainan yang diciptakan untuk memecahkan suasana canggung dan penghilang rasa bosan dalam sebuah kegiatan yang tengah berlangsung. Mungkin karena itu iya Ice Breaking diciptakan. Sebenarnya selama ini mungkin kita itu udah pada tahu praktik Ice Breaking, tapi mungkin baru tahu istilahnya sekarang kali iya. Biasanya sih yang kek gini tuh gue temuin pada seorang Public Speaker dan kata temen gue di kegiatan Pramuka juga ada Ice Breaking nya, tapi bodoamat lah gue nggak tahu, orang dulu kalo ada kegiatan pramuka gue bolos mulu, wkwk *jangan di tiru*

Nah, kalo penasaran contoh-contoh permainan Ice Breaking itu kek gimana klik aja disini Games Ice Breaker

And then, pas temen gue cerita mau menyuguhkan Ice Breaking pada saat presentasi di salah satu mata kuliahnya itu akhirnya berhasil dan berlangsung seru! Dan tentunya nggak krik-krik, hahaha. Sebuah ide yang cemerlang dari temen gue, karena selama ini di kelas gue maupun di kelas-kelas jurusan lain di fakultas gue mungkin nggak ada yang kek gitu pada saat presentasi. Apa lain kali gue ngikutin trik ini aja kali iya biar temen-temen gue pada nggak ngantuk, tapi nanti takutnya dimarahin dosen karena waktunya nggak cukup, wkwk.

Memory Narasi

Jika Membaca adalah Melawan, Maka Menulis adalah Bergerak

BadrulMozila.com

Tambah Pengetahuanmu Mengenai Dunia Wisata

Komorebi

"Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka jati dirimu akan terungkap tanpa kata-kata" -El-Rumi-

agusjumadirauf

ilmu adalah senjata tuk menaklukan dunia

Jagotelu

Usaha Kreatif Batik Nusantara

LITTLE DREAMER

I'm not a writer. Looking for Inspiration or something amazing? It's not here.

'SULISTYO CAHYO RAMADHAN'

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda - Tan Malaka

Review Tales by Jeyran Main

Professional Book Editor - Marketing Advisor - Book Reviewer

batching plant operator

batching plant operator

Aku Dewi

RASA AKSARA

hadziqrshd

Reflection of the curious

Lorem Ipsum

i like your lorem and i think we should ipsum.

joanneclaudya.wordpress.com/

Joanne Claudya Ambakaraeng ♥

Dusun PUNGLI...PemUda peNGgerak LIngkungan

Pemuda kudu biso mrantasi...

_RondA_maLEm_

Just another WordPress.com weblog

Winny Marlina

Whatever you or dream can do, begin it!