Posts from the ‘Cerita’ Category

Masak Mie Instan Antimainstream

Gara-gara ada long weekend, hampir semua anak kontrakan kemarin memutuskan untuk pulang kampung. Sebenarnya setelah pulang dari PPL saya juga sudah siap-siap packing pulang ke Kudus. Tapi saya masih santai-santai saja dulu sembari melihat keributan teman-teman saya yang mau balik ke peradabannya masing-masing.

Ada teman saya Eka, yang mau pulang ke Pekalongan, Farchi pulang ke Kendal, Iqbal pulang ke Tegal, Iftah dan Novi yang pulang ke Semarang aja (kos). Kemudian disusul Roshif, Nefi dan Abror yang juga balik ke Semarang. Tinggal Saya, Faza, Rizza, dan Wahib yang masih mantengin kontrakan. 

Kemarin saya sudah nyiapin tas ranselku dan sudah pakai jaket. Tapi setelah turun dari kamar dan melihat kenyataan yang berada diluar ternyata hujannya deras. Saya nungguin sampai Ashar bersama teman-teman saya di ruang tamu masih aja nggak reda-reda, nungguin lagi sampai jam 4 masih juga nggak ada habisnya itu air, sampe jam 5 sore aku pantengin terus itu hujan dan hasilnya haddehhh.. 

Gagal Pulang“.

Lalu salah satu teman saya berceloteh,

Wahib : “Buat Mie enak kiii”..

Yah, karena gagal go home apalagi keadaan sedang hujan. Alhasil kita semua berasa laper dan akhirnya pada beli Mie Instan di warung depan (andalan setiap kendala).

Nah, waktu habis Maghrib ketika kami mau masak mie sama-sama di dapur, saya melihat ada hal aneh yang dilakukan teman saya “Faza”.

Masak mie instan antimainstream

Kelakuannya Faza saat di dapur

Saya dan Rizza mlongo..

Aku : “Lho Za, kok plastik bungkusnya ngapain kamu cemplungin ke wajan juga..” (mlongo)

Rizza : ” Iyo Za, kok gitu za..” (mlongo)

Faza : “Iya, aku kek gini masaknya, kalo mie nya banyak, jadi aku bolong dikit tu bungkus langsung cemplungin ke wajan, nanti kalo udah mateng air yang masuk dibungkusan itu dibuang lalu mie nya taruh di piring, jadi nggak ribet. Di warung-warung juga katanya ada yang seperti ini. Jadi malu aku kan masaknya gini, udah kalian pergi aja dari dapur.. hahaha (isin).

Aku dan Rizza saling berpikir dan keheran-heran. Lalu tiba-tiba ngakak bersama. Teman saya Wahib nggak terlalu heran, karena sudah melihat hal seperti itu sebelumnya, tapi tetap aja ngakak.

Rizza : “Eh Khoir.. mending iki to foto terus dadikke story, hahahahhahaa”.

Aku : “Iyo iki wkwkwk”

Faza : “Hahasemm.. jahat koe koe kii..”

Lalu teman-teman saya rame komen di WhatsApp : “eh apa-apaan..” “maksutee..” “piye kui..” “hee bisaneeee” wah, antimainstream..” etc.

Jadi seperti itulah ceritanya kenapa bisa bungkus mie instan itu bisa di cemplungin juga di wajan. Hahaha.

NB : JANGAN COBA-COBA MENIRU. 

Advertisements

Beda, bosan.

Hari ini aku pindah PPL ke Pengadilan Agama Demak, dan kesanku ketika sampai disana iyaaa biasa saja. Aku justru mengapresiasi perawatan taman disekitar pengadilan yang asri layaknya perkebunan mini. Suasananya memang berbeda dengan PN, aku masuk PA kepalaku langsung ruwet. Bakal banyak konflik rumah tangga merajalela. 

Hmm saat masuk aku juga menemukan hal yang imut disana, ada tempat permainan anak-anak kecil, kayak telusuran gitu, warna-warni. Sambil jalan aku mikir, fungsinya buat apa iya itu ada di pengadilan agama, iya paling buat begituan, anggap saja itu untuk “respect for children”, seperti itu. Mungkin. 

Hari pertama di PA tadi jadwalnya cuma mantengin sidang doang, begitu terus sampe kehabisan cairan. Membosankan sekali Ya Allah, ngliatin sidang pertama orang bertengkar mau cerai membuat kepalaku tambah pusing, sidang kedua kepalaku mulai ruwet, sidang ketiga dan seterusnya aku mulai kekurangan cairan=ngantuk. Ngliatin sidang membuatku berdo’a semoga suatu hari nanti ketika aku sudah berkeluarga kalem damai harmonis. Amin.

Pas absen di bagian informasi, “Besok maksimal ke PA jam 08.15, kami hanya beri toleransi 15 menit saja, yang lain tolong dikasih tahu..”

Masuk konflik keluar konflik. 

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Pengadilan Negeri Demak

PPL pengadilan negeri Demak

Demak, 29 Januari 2018 – Adalah hari pertama saya dan 19 orang teman lainnya menjalankan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Pengadilan Negeri Demak. Waktu itu sebelum melakukan kegiatan di Pengadilan, kami mengikuti apel pagi terlebih dahulu bersama para pejabat pengadilan sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah itu kami memasuki ruang sidang untuk mengikuti acara penerimaan peserta PPL dan mengikuti arahan terutama pengenalan dari Wakil Ketua Pengadilan Negeri Demak, beliau adalah Bp. Agam Syarief Baharudin, SH., MH. 

Setelah penerimaan peserta PPL yang didampingi DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), mahasiswa diberi penjelasan mengenai tata tertib di pengadilan dan penjelasan umum lainnya yang berkaitan dengan pengadilan. Setelah itu kami di bagi kelompok dan ditempatkan pada masing-masing ruangan. Diantaranya ada di bagian kepaniteraan hukum, kepaniteraan perdata, kepaniteraan pidana, umum, UP (Urusan Kepegawaian) yang sekarang​ berubah menjadi sub bagian kepegawaian, dan ruang IT.

Pada hari pertama saya kebagian di ruang kepaniteraan perdata bersama 2 orang teman saya. Selama 2 hari saya belajar dan praktik di ruang tersebut. Belajar membuat relaas dan akta permohonan upaya banding dalam kasus perdata. Tapi kebanyakan kami lebih sering bertanya-tanya tentang tugas kepaniteraan perdata dan melihat-lihat berkas atau dokumen. Di situ juga kita belajar tentang tugas-tugas apa saja yang dikerjakan oleh juru sita. Dan kemarin saya rolling, pindah ke ruang kepaniteraan hukum, lalu saya dan 2 orang teman saya ditugaskan di ruang arsip perdata. 

Hal yang menarik bagi saya saat berada di pengadilan adalah nonton sidang. Sepertinya itu sudah menjadi hobi yang memang harus dilakukan untuk memahami bagaimana jalannya hukum acara pidana dan perdata di Pengadilan Negeri Demak ini. Saya seringkali memerhatikan dan mencatat hal-hal yang dilakukan oleh Hakim, Jaksa, Panitera, Saksi, Kuasa Hukum Penggugat atau Tergugat saat jalannya persidangan. Memerhatikan apa saja yang perlu dibicarakan oleh seorang Hakim dkk dan urutan-urutannya saat jalannya persidangan. Jujur saja, saya lebih tertarik sidang kasus pidana daripada perdata. Menurut saya kasus perdata itu “more complicated“, ruwet dan membosankan, hahaha. Lebih menarik lagi ketika nonton sidang kasus pembunuhan, itu sangat menggugah sekali, semua peserta PPL langsung memerhatikan sidang dengan seksama.

Tapi bagaimana pun juga tata tertib di ruang sidang perlu diperhatikan. Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan diruang sidang adalah makan dan minum, tidak boleh bersuara, handphone di silent atau kalau bisa dimatikan, peserta PPL juga harus izin dulu dengan Hakim jika ingin mengambil foto, jangan asal jeprat-jepret (terutama seorang wartawan yang ingin masuk ke pengadilan). Dudukpun diatur tidak boleh “nyingkrang” karena akan terlihat tidak sopan dihadapan seorang Hakim. Yabegitulah.

Dan hal menarik lainnya ialah ketika mendengar pernyataan dari Pak Agam (WKPN PN Demak) mengenai saksi. Bahwa saksi bisa diperiksa secara serentak, karena dalam KUHP yang pada intinya hanya menyatakan “saksi dipanggil satu-persatu” bukan “diperiksa satu-persatu“, tujuannya tentu untuk mempercepat waktu sidang. Dan kemarin ketika Pak Agam menyampaikan materi tentang hukum acara pidana, di pertengahan materi beliau bercerita bahwa dulu pernah melakukan kesalahan, menjatuhkan hukuman pidana terhadap orang yang tidak bersalah. Beliau tiba-tiba meneteskan air matanya. Teringat.

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Pada tanggal 16 Desember 2017 lalu saya pulang ke Kudus untuk melakukan survei di Desa Dukuhwaringin Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Selama 3 hari saya berhasil menyelesaikan penelitian tersebut dengan bantuan teman saya yang bernama Mega. Awalnya saya ingin memutuskan pulang dari Semarang langsung menuju ke Desa Dukuhwaringin, tapi sayangnya saya belum mengetahui dengan ngeh lokasi desa tersebut, ‘Pokoke ngliwati Colo’ begitulah kebanyakan orang mengatakan, itu berarti lumayan jauh dari rumah saya, jadi saya memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, sambil menyiapkan berkas dan mencari tahu tentang Dukuhwaringin, terutama Kepala Desanya.

17 Desember 2017, hari itu juga saya berhasil menemukan Kantor Kepala Desa Dukuhwaringin​, karena hari itu hari Minggu, kantor tutup. Jadi saya langsung ke rumah Pak Kepala Desa, namanya Pak Aris Istiyanto. Beliau baik walau agak cuek, tapi setidaknya terimakasih sekali sudah mengizinkan saya untuk survei disana. Dari sini saya jadi tahu bahwa kita memang tidak bisa sembarangan masuk desa tanpa ada surat keterangan survei yang resmi.

Saya pernah berpikir, kenapa rumah Kepala Desa itu pasti kebanyakan tak jauh dari Balai Desanya? 

Well, karena informasi berkas yang saya butuhkan untuk penelitian berada di Kantor semua, jadi Pak Kepdes tidak bisa membantu banyak, beliau hanya bisa menyarankan datangi saja setiap Ketua RT yang berhasil terpilih sebagai sampel, atau pilih besok hari Senin saja ketika kantor buka. Tapi karena saya juga dikejar waktu, mau tidak mau saya harus mencari tahu langsung.  

18 Desember 2017, saya langsung pergi ke balai desa untuk meminta data dari perangkat desa, disana diberikan pelayanan yang baik, saya suka. Dan setelah mendapatkan data yang sudah cukup membantu akhirnya saya bisa terjun wawancara dari rumah ke rumah. Hari itu hanya berhasil mendapatkan 6 responden saja, itupun susahnya minta ampun untuk mencari alamat setiap warga yang terpilih menjadi sampel tersebut. Sampai-sampai saya dan teman saya hafal jalan setiap RT disana, dan nama perangkat desapun saya juga hafal, karena beliau-beliau yang sering membantu, terimakasih sekali.

19 Desember 2017, Hari dimana saya harus menyelesaikan survei tersebut secepat mungkin karena..

esoknya..

saya..

ADA UAS DAN BANYAK TUGAS YANG BELUM TERSELESAIKAN!!!

Yak, hari itu juga saya akhirnya berhasil melengkapi dengan 4 responden, pada responden terakhir adalah Pak Ketua RW 02 Dukuhwaringin sendiri, namanya Pak Selamet. Beliau baik, ramah dan humoris. Waktu itu kebetulan beliau dan istrinya berada di warung. Jadi saya dipersilahkan untuk wawancara disana saja. 

Selama wawancara, saya justru tidak fokus dengan quosioner nya, karena saya lebih banyak ngobrol dan tertawa dengan Pak Selamet, seharusnya yang harus saya wawancarai adalah Bu Surani, tetapi kadang beliau juga bingung sendiri untuk menjawab. Alhasil, yang selalu menjawab adalah Pak Selamet. Kita asyik membicarakan budaya politik disana, perkembangan desa tersebut, pariwisatanya, pupuk, pertanian, kinerja pemerintah jateng, partai politik, masalah yang di alami desa tersebut dan sebagainya dengan menggunakan bahasa yang ringan. Desa ini juga tergolong kecil sekecamatan Dawe, suasananya sepi, asri, tenang, pemandangannya juga bagus dan udaranya juga lumayan dingin. 

Seminar Regional Class; How To Be Digital Citizen Journalist

Pada bulan November lalu saya sering mengikuti seminar tentang dunia jurnalis, sejak saya mengetahui event Citizen Journalist Academy membuka workshop dan audisi di Semarang saya jadi penasaran dengan dunia wartawan. So, kali ini saya ingin membagi isi materi dari salah satu seminar yang saya ikuti satu bulan yang lalu. Walaupun tidak begitu lengkap, mungkin saja bisa bermanfaat.

Seminar ini adalah sesi Regional Class yang merupakan program para finalis Citizen Journalist Academy Semarang yang mengusung tema How To Be; Digital Citizen Journalist, seminar ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 November 2017 pukul 15.00 WIB bertempat di Ruang Seminar Gedung Pusat Lantai 2 Universitas PGRI Semarang. Pematerinya adalah Muhammad Syukron (Jurnalis Suara Merdeka) dan Edhie Prayitno Ige (Jurnalis Liputan6.com).

Seminar Citizen Journalist Academy Semarang

Pak Edhie Prayitno (Jurnalis Liputan6.com) saat menjelaskan materi di Gedung Pusat UPGRIS

So, ketika kita ingin menulis berita ternyata ada 3 unsur selain 5 W + 1 H gaes, namanya 3 E + 1 N, what’s that?

  1. Educating (mendidik)
  2. Enlightening (mencerahkan)
  3. Empowering ( memberdayakan)
  4. Nasionalisme (kebangsaan/NKRI)

Ketika acara berlangsung pemateri lebih suka sharing pengalaman daripada fokus pada materi. Dari Muhammad Syukron misalnya, seorang jurnalis Suara Merdeka yang mengawali hidupnya dibidang menulis dengan sering mengikuti lomba dan suka mengirim tulisan cerpen dan puisi ke majalah Aneka. Beliau juga sempat bercerita bahwa karena zaman dulu itu belum ada handphone, jika ada orang yang suka dengan tulisan beliau orang itu harus datang ke redaksi Aneka dulu lalu baru bisa mendapatkan alamatnya beliau.

And then, saya juga ingat satu pertanyaan dari mahasiswa pers pada saat itu, dia bertanya tentang saat perwakilan dari sebuah LPM ingin melakukan wawancara tetapi ditolak dan dilarang, menurutnya LPM seperti tidak ada kebebasan atau wewenang untuk melakukan suatu wawancara, padahal mereka juga berusaha mencari berita. Lalu Pak Edhie Prayitno (jurnalis Liputan6.com) menjelaskan bahwa “ketika kita ingin wawancara di sebuah tempat yang rawan misalnya, usahakan tidak usah membawa nama LPM segala atau pers apapun itu, ngobrol biasa saja dengan santai, pakaiannya juga tidak usah formal, yaa nyamar saja seperti pengunjung atau orang-orang lainnya, karena dari ngobrol itu justru kalian bisa dapat data banyak, saya saja sering hanya memakai sandal jepit dan celana pendek kok ketika terjun dilapangan”.

Well, saya jadi ingat waktu saya mengunjungi open perdana Wisata Pasar Karetan di Kendal, untuk mendapatkan informasi saya harus membeli jajanan sembari ngobrol pada salah satu pedagang Pasar Karetan, setelah bertanya ini dan itu dengan salah satu pedagang, alhasil saya berhasil mendapatkan banyak informasi.

Saya memang bukan anak LPM sih, karena dulu saya pikir genre (kiblat) LPM kampus saya itu pasti itu-itu mulu. Saya yang lebih suka menulis dengan bahasa ringan dan fun sepertinya tidak cocok untuk masuk di sebuah LPM. Jadinya sampai sekarang saya masih suka ngeshare pengalaman pribadi saya kepada teman sesama bloger buat dibaca dan yang terpenting itu buat melatih menulis. Karena jujur saja, saya masih kesulitan mencari waktu untuk bisa disiplin menulis, dan kadang tidak bisa cepat dan tepat waktu menulis setelah mengikuti event-event tertentu, padahal ingin sekali membagikan informasi secara up to date, tetapi susah juga.

Foto bersama finalis citizen journalist academy semarang

A Great Day; Workshop Citizen Journalist Academy

Citizen Jounalist Academy

Saat berlangsungnya acara sesi pertama Citizen Journalist Academy di Gedung Balaikota Semarang

Semarang, 03/08/2017 – Acara yang dipersembahkan oleh Indosiar, liputan6.com dan Pertamina ini telah menarik perhatian ratusan mahasiswa dan pelajar di Kota Semarang, Jawa Tengah. Well, kenapa tidak? Karena acara ini cukup bergengsi untuk kalangan yang ingin terjun di dunia jurnalis, seperti wartawan, reporter, kameramen dan presenter. 

Well, pada hari itu gue hanya mengikuti workshopnya saja karena tidak tertarik untuk mengikuti audisi, lebih tepatnya sadar diri atas kemampuan, tapi dari dulu gue memang sudah penasaran tentang dunia jurnalis dan media sih. Yah, itung-itung nambah pengalaman dan wawasan, bersyukur sekali bisa mengikuti workshop tersebut langsung dari para presenter Indosiar. Audisi itu sendiri dilaksanakan di 3 kota, yakni Jakarta, Semarang dan Balikpapan. Pada masing-masing kota hanya membutuhkan 30 finalis untuk siap di adu di Jakarta. 

Ketika gue bertanya pada temen gue yang berasal dari UNDIP perihal kenapa iya mereka hanya memilih 3 kota itu, kemudian dia beralasan bahwa memilih Jakarta itu ya harus sudah pasti lah, kalau Semarang mungkin letaknya ditengah-tengah, jadi lebih mudah untuk di jangkau, dan yang terakhir memilih Balikpapan mungkin karena disitulah tempatnya Pertamina. Yahhh, anggap saja jawaban ini lumayan logis yak.

Acara inipun dilaksanakan dengan 3 sesi. Sesi pertama adalah Journalism and Media Class, yakni mengenai bagaimana sih caranya bisa menghasilkan news media content yang kreatif, sesi ini disampaikan langsung oleh para presenter Indosiar. 

Sesi kedua adalah Creative Energy Class, yakni bagaimana sih caranya melakukan tindakan energi kreatif yang bermanfaat untuk negeri. Sesi ini disampaikan langsung oleh M. Alfatih Timur (CEO dan CO Founder KitaBisa.com) dan Aditya Wira Santika (Investor Relations Pertamina).

Dan sesi ketiga adalah Career Class, yakni bagaimana sih caranya memulai karir di dunia industri media yang mana menurut gue ini adalah sesi yang paling penting dan bikin penasaran. Di sampaikan langsung oleh Desita Tambunan (HR Talent Acquisition SCTV & Indosiar) dan Ryan Wiedaryanto (News Manager Presenter & Creative Presentation Indosiar).

Well, mungkin hanya itu yang bisa gue sharing kali ini yak, sepertinya tahun depan acara ini akan dilaksanakan kembali, cocok banget nih buat yang bener-bener ingin terjun di dunia jurnalis.

Cerita Konyol Tentang Ormas Yang Sudah Di Bubarkan

Well, kali ini gue mau menceritakan pengalaman geblek gue tentang ormas yang sudah dibubarkan atau sebut saja HTI. 

Kejadian ini kalau tidak salah pas gue masih semester tiga kemarin. Yang kuingat pokoknya gue perginya pas hari Minggu, soal bulan dan tanggalnya gue lupa.

Well, beberapa hari sebelum kejadian itu ketika gue sedang asyik berjalan pulang menuju kos yang tepatnya berada di depan kampus (tapi sekarang gue sudah pindah) gue bertemu dengan salah satu teman organisasi gue, anak fakultas sebelah. Awalnya cuma niat nyapa-nyapa doang sih, eh tapi kok pas gue perhatiin bener-bener dia sibuk nyebarin pamflet acara Kongres Mahasiswi Islam gitu. Dan gue termasuk yang menjadi korban sasarannya.

D : “Mbak ikut acara ini yak di U****”.

A : “Hah, acara apaan ini dek”.

D : “Acara Kongres Mahasiswi Islam, nanti mbak hubungin aku aja deh, kalo mbak jadi besok kita berangkat bareng”.

A : “Oke deh, duluan yak”

Nah, berhubung weekend kali itu gue nganggur plus ditinggal pergi acara makrab sama teman sekamar. Tiba-tiba gue penasaran lagi sama pamflet yang diberikan teman gue. Pun di dukung dengan rasa penasaran kampus U**** itu seperti apa, jadi malam Minggu itu juga gue memutuskan untuk ikut.

Gue sebenarnya juga nggak tahu sih itu acara seperti apa, ya pokoknya Kongres Mahasiswi Islam gitu deh, gue nggak mau kebanyakan mikir apalagi merenung. Niat gue cuma mau maen ke U****, udah gitu aja. Soal acara itu mah gue rada bodoamat.

Alhasil, kita berangkat berempat, yang pasti salah satunya adalah teman gue yang sudah nyebarin pamflet. Well, setelah sampai di U****, baru mau masuk gedungnya aja perasaan gue pada saat itu sudah mulai merasa nggak enak. Dalam hati gue timbul berbagai pertanyaan kok gini iya, kok gitu iya. Shit!! Semoga gue nggak salah acara!

Sampai di titik pertengahan acarapun gue baru bener-bener yakin kalo gue emang salah masuk acara! Awalnya gue santai aja, tapi pas gue perhatiin busananya kok pada gede-gede gini yak, panjang-panjang bener dah. Lha gue yang tipe casual dan nggak muslimah-muslimah amat jujur itu bikin gue nggak nyaman.

Awalnya gue juga santai aja, tapi pas lihat pembukaan acara yang kayak parade mutar-muter sambil megangin bendera hitam bertuliskan “laailahaillallah” yang menurut gue itu serem banget. Gue jadi mulai ilfeel sama forum tersebut.

Awalnya gue juga santai aja, tapi setelah melihat video yang ditayangin di LCD, gue langsung sadar kalau itu sudah mulai beraroma radikal. Awalnya gue juga santai aja, tetapi setelah gue cari tahu tentang Hizbut Tahrir Indonesia itu apaan, GUE BARU TAHU KALO TERNYATA GUE MASUK FORUM RADIKAL! GUE SALAH MASUK ACARA BEGOKK!!

Bener-bener vekok, gue bener-bener speechless pada saat itu, kenapa gue nggak tanya dulu sih sama temen gue yang ngerti kek ginian, ini acara apaan, tapi ya mana gue tahu yak, orang niatnya cuma maen ke U****. Bah, savage bener dah!

Terus gue mencoba bertanya ke salah satu teman gue tadi, dan ternyata DIA JUGA NGGAK TAHU HTI TU APA!!! Begok semua dah. Tapi gue yakin, dua temen gue yang lain itu pasti udah paham acara apa itu, dan apa HTI itu, tapi pada saat itu gue berpura-pura tetap baik-baik aja, gue berusaha tetap tenang dan diem aja, gue harus menahan situasi kamvret itu sampai acara selesai.

Yang jelas, kejadian konyol itu gue jadikan pengalaman berharga, karena acara itu juga gue jadi tahu HTI itu apa. Jadi tahu ormas-ormas yang radikal itu yang mana aja, lumayan buat nambah pengetahuan tentang radikalisme. BIAR NGGAK SALAH MASUK FORUM LAGI!!

Dan dari kekonyolan itu juga, gue masih nggak nyangka gue bisa sebegok itu. Pas gue ceritain kejadian itu ke temen gue di perpus, dia tiba-tiba nyodorin buku tentang radikalisme buat ngeyakinin gue, dan emang bener HTI adalah salah satunya. Gue semakin merasa tambah begoook. Kenapa gue bisa nggak tahu sih hal-hal seperti ini, atau mungkin gue terlalu asik memikirkan teknik menggambar yang bener itu seperti apa, sampe gue nggak tahu apa itu HTI. Ah, yang jelas itu pengalaman dan juga pelajaran bagi gue. BIAR NGGAK BEGO.

Andrihertz

Real Life

Consider Faith: A Blog on Christian Social Justice

A blog on Social Justice from the Christian Perspective

MataKita

Memandang realita tanpa mengubah fakta

annahabibunnisa

@little_fairy

Juman Bin Wastono

Catatan harian seorang ayah

D Sukmana Adi

Ordinary people who want to share experiences

AEP

mengambil pelajaran di setiap persinggahan

Empowered

Everyday

Caramel Mocha

About Coffee, Sugar, and Chocolate in A Cup of My Life ☕

miranda suruan

there's no fears

zainalabidin97

Bacaan Ringan

Nur Akhmad Tri Aji

Diver. Being natural. Life learner.

Rahmanu's Blog

Hej Hej! Apa kabar?