Kemarin aku terlena pada cerita dari sebuah novel, tentang sebuah perjalanan hidup seseorang yang sangat mengagumkan. Sangking antusiasnya dengan novel tersebut dalam perjalanan pulangpun aku sempatkan untuk membacanya. Kasus cerita-ceritanya yang cerdas berhasil membuatku penasaran setiap lembaran-lembaran berikutnya. Damn, novel itu memang lumayan tebal. 

Serius mengikuti alur cerita novel tersebut, sesekali aku melihat pemandangan luar, melihat jalan, sawah, bangunan-bangunan sampai lampu lalu lintas aku perhatikan. Aku melamun. Tapi memang disaat itulah semua benakku muncul, entah memikirkan tentang kuliah, umur, mimpi yang belum jelas, masalah yang belum tuntas, keluarga, teman, kehidupan dan sebagainya. Aku mendesah, hidup memang tak semudah itu.

Sampai saat melewati sepanjang jalan perkebunan karet berhasil membubarkan lamunanku. Ada sesuatu hal yang menarik perhatianku disana.

“Itu kenapa semua warga berkumpul di perkebunan karet? Ramai sekali”.

“Itu memang sudah tradisi ka, warga Jepara memang selalu melakukan hal itu ketika lebaran ketupat. Tidak hanya di perkebunan karet ini, di pantai pun begitu”.

“Ya ampun, aku baru tahu warga Jepara seperti itu”.

Tapi menurutku, tidak semua warga Jepara melakukan hal itu. Sebenarnya akupun juga hampir lupa jika kemarin adalah lebaran ketupat.

Aku asyik memperhatikan orang-orang yang seperti semut itu berkumpul di sepanjang perkebunan karet itu. Ada yang membawa makanan banyak sekali seperti mau jualan, ada yang asyik membakar ikan, ada yang hanya sekedar duduk-duduk bersama dengan tikar seperti sedang bertamasya, ada yang asyik foto-foto dan sampai ada yang membuat orkes kecil-kecilan untuk lebih meramaikan suasana. Pikirku, seheboh itukah merayakan lebaran ketupat? Who knows, itu sudah tradisi.

Lama kelamaan membosankan juga melihat orang banyak seperti itu, apalagi gara-gara acara tersebut membuat jalanan agak sedikit tersendat. Malas melihatnya, lalu aku memutuskan untuk kembali melanjutkan membaca novel, itu lebih berguna.

Sungguh gara-gara novel tersebut, aku jadi ingin tahu lebih mengenai firma hukum, apa saja tugas seorang pengacara sampai bisa menyelesaikan kasus cerdas seperti yang diceritakan novel tersebut, sepertinya memang menarik. Ya ampun, baru kali ini aku memikirkan tentang hal ini. Padahal aku dulu sangat membenci jurusanku sendiri, pernah dulu aku tak ingin menganggap jurusanku ini, sampai pada akhirnya sekarang aku bisa menerimanya. Entahlah, semuanya bisa berubah begitu saja seiring berjalannya waktu. Ah, tapi aku bodoamat sih, let it flows.

Lalu bagaimana dengan cita-citamu yang ingin menjadi seorang seniman atau seorang jurnalis di perusahaan majalah besar? 

Hahaha menulis dan menggambar itu hanya hobi. Entahlah.

Tapi cukuplah, semua ini bukan hanya tentang cerita novel itu saja, tapi sebuah percakapan di dalamnya. Malam itu, dalam perjalanan pulang sebuah pertanyaan penting melontar kepadaku.

Mas ipar bertanya.

“Kamu ini memang tidak pernah berbicara dengan Mas mu dirumah?”.

“Pernah, tapi hal-hal yang penting saja, dia lebih sering di kamar, kerja-pulang, kerja-pulang, seperti itu”. 

“Teruslah ajak bicara, menurutku dia hanya butuh teman”.

Kamu ini yang paling muda, kamu harus punya ide-ide jika ada masalah dalam keluarga.

Amanat macam apalagi ini, pikirku. Pertanyaan itupun hampir membunuhku, aku hampir tidak bisa menjawab. Aku juga baru sadar, ternyata selama ini aku terlalu cuek, Mas iparku telah menyadarkanku, kakak perempuanku hanya diam saja pada saat itu. Aku mendesah, aku merasa bersalah, seharusnya aku bisa berpikir lebih dewasa. Tapi apa yang harus aku lakukan???! Apa???!!

Mengingat masa lalu, masalah bodoh itu, yang hampir membuat kehabisan nafas. Sungguh apa yang bisa dilakukan untuk melawan perusahaan bodoh dan ulah para orang atas yang tidak bertanggung jawab. Kakakku beserta karyawan lainnya harus masuk jebakan lubang hitam tapi teman-temannya lari saat kakakku sedang jatuh-jatuhnya. Sungguh semua itu sangat bodoh sekali untuk dipertontonkan. Tanah milik Bapakpun terpaksa dijual, sisa uang seadanya itulah kenapa akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan bangku kuliah. Bersyukur sekali.

Ah! Hidup memang begitu unyu!

Advertisements