Lebaran kali ini mungkin aku merasa ada yang kurang, tidak seperti tahun lalu. Ya, lebaran pertama tahun ini terpaksa aku rayakan tanpa keponakan and of course tanpa kakak perempuan. Momen berharga (mudik) yang hanya mereka lakukan setahun sekali dan kali ini lebaran pertama mereka tidak dirayakan di Kudus. Sekarang gantian, kakak perempuanku harus merayakan lebaran pertamanya di Jogja, karena tahun lalu mereka sudah merayakan di Kudus. Jadi, sepertinya ada unsur teori keadilan disini, bah.

Ya aku mengerti, dan aku juga paham. Begitulah perempuan jika sudah menikah maka ia akan semakin menjauh (jarak). Apalagi jika masalah tempat tinggal keluarga pasangan yang tergolong memakan waktu yang lama, sehingga membuatku terkadang berasa… yaa aku kira semua pasti paham perasaan seperti apa yang kumaksud. Walau sedikit terobati dengan datangnya saudara-saudara, tetapi toh itu cuma sebentar bukan?

Andai semua hari itu hari lebaran. Pasti semua yang kembali tidak akan segera pergi, maka setiap rumah menjadi hidup. Yang biasanya berpenampilan cuek tapi karena lebaran mereka memikirkan busana yang lebih sopan. Yang biasanya tidak pernah silaturahmi karena kesibukan masing-masing tapi karena lebaran, mereka bisa melakukannya. Mereka bisa melakukan semua hal itu karena lebaran.

Anyway, berbicara soal warga desa, alhamdulillah tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Pertanyaan mereka selalu masuk akal untuk keadaan dan usiaku saat ini, tidak ada pertanyaan yang melampaui batas. Tapi terkadang yang membuatku malas adalah aku di kira kakak saya dengan alasan kami begitu mirip, bah. (Yaiyalah namanya juga saudara), *masalahnya yang satu udah punya anak, lah ini yang masih muda masa di sama-samain aja gitu -__-*

Oh iya, ada hal yang menarik perhatianku kali ini. Ketika saya bertemu dengan dua orang guru saya. Yang sempat mempertanyakan mengambil jurusan apakah aku ini.

Bu (S) : “Ya, nanti kamu jadi hakim iya”.

Aku : “Amin..”. (with full smile dan rasa tidak yakin)

Dalam hati aku berbisik, “Orang kek gini kok mo jadi hakim, jajaja”.

Pak (R) : “Ya bagus, nanti usahakan teorinya di praktikkan bener-bener mbak, sekarang kan banyak itu bank yang berembel-embel syari’ah, coba saja bagaimana menjadikan semua bank itu syari’ah, haha“. 

Demi sopan santun aku ikut tertawa, walau sebenarnya aku juga tidak paham apa maksudnya tujuan pernyataan itu.

Dalam hati : “Andai panjenengan tahu pak, saya itu jurusan Hukum Pidana bukan Hukum Ekonomi, heu”.

Happy Ied Mubarak 1438 H.

Advertisements