Archive for June, 2017

Band Australia ini Vokalisnya Berasal dari Indonesia lho! Mau tahu?

The Temper Trap

Vokalisnya yang pake knit cap warna orange

Dougy Mandagi, begitulah nama vokalis sekaligus gitaris sebuah band bergenre alternative rock yang berasal dari Australia, The Temper Trap.
Sebagai front man dari band The Temper Trap, si Dougy ini ternyata berasal dari Manado lho, yaps setelah merantau kesana-kemari dengan latar belakang cerita masa kecil yang it’s so ngalur-ngidul, dengan beberapa keluarganya akhirnya iapun menetap di Melbourne, Australia. Asik.

Si Dougy ini dulunya suka sekali menggambar lho, sampai ketika dulu ingin kuliah dan mengambil jurusan seni di Australia. Tetapi sepertinya dia belum beruntung karena tidak berhasil lolos masuk jurusan seni yang diinginkannya.

Karena gagal kuliah di jurusan seni, iapun memutuskan untuk menekuni bidang musik. And then, bertemulah dia dengan Jonathon (bass), Toby (drums), dan Lorenzo (kek nama pembalap gitu iya; guitar), dari pertemuan itulah terciptanya sebuah band bernama “The Temper Trap”.

Awalnya hanya manggung kecil-kecilan di acara-acara gigs di seluruh kota, sampai pada akhirnya mereka bertemu dengan produser legendaris Jim Abiss yang bersedia mengurus album pertama mereka “Conditions”. Produser ini juga yang sempat melambungkan nama band Arctic Monkeys dan The Kasabian. Untuk melejitkan karya album mereka selanjutnya si Dougy dan kawan-kawanpun pindah dari Australia ke Inggris.

Tuh, nggak kebayang kan seberapa fasihnya si Dougy dalam berbahasa Inggris, british pula. Sampai mungkin dia pasti lupa bahasa Induknya sendiri jajajaja. Yagitudeh kalo udah hidup di beda negara dan budaya.

Aku sendiri tahu lagu band ini yang berjudul “Sweet Disposition” ketika nggak sengaja ndengerin jingle iklan sebuah brand mobil ternama Indonesia beberapa tahun yang lalu, jajajaja.

Pas pertama kali liat iklan mobil TY (maaf, nama disamarkan) 

“Hmm? LAGUNYA SIAPA NIH,”. 

Dulu juga sempat aku nobatkan kalau iklan mobil T***** Y**** ini adalah iklan favorit gue, jajajaja. Sungguh bego nggak penting!

Jaaaaa ketahuan deh kalo ternyata searching lagu-lagu dari soundtrack iklan.

It’s OK, gini-gini juga ngerti musik dikit lah, karena dulu juga pernah main Marching Band, megang perkusi jajajaja. Tapi sekarang itupun hanya kenangan, hanya bisa melihat stick warna hijau yang dulu sering aku pakai untuk latihan. Duh, jadi rindu main lagi, wah gimana ini aku jadi merasa nostalgia gini, duh gimana nih, ah semua ini gara-gara Temper Trap sih! (Lho?)

Udahlah, nih, aku kasih bonus image.

The Temper Trap

Picture by Google

Advertisements

BUKAN HANYA RAKYAT KECIL, PEJABATPUN BISA JADI KORBAN

Ada rasa sensitif memang ketika kita berbicara mengenai rakyat kecil dan hukum, kenapa masalah-masalah yang sepele harus diurus. Bagi mereka para penegak hukum mungkin berpikiran, apa yang salah? Itu sudah menjadi tugas kami. Bayangkan saja jika kalian berada di posisi seorang hakim, apa harus mereka membuat keputusan sendiri seperti perspektif masyarakat dan mengedepankan opini-opini mereka mengenai penegakan keadilan hukum terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh rakyat kecil yang dianggap kurang relevan? Tentu saja itu tidak mungkin. Seperti yang kita ketahui, hukum itu sangat rasional dan hanya akan mengikuti aturan formal, tidak akan bersifat humanis apalagi urusan hati nurani. Apapun alasannya, sekecil apapun bentuk dan tindakannya, jika itu sudah menyentuh Undang-Undang sudah tidak ada lagi harapan.

Hukum juga seperti sudah menjadi korban labeling dari masyarakat dengan julukan “tumpul ke atas dan tajam ke bawah”. Oleh karena itu, hukum selalu terkesan negatif di mata kita. Coba kita flashback sebentar dari kasus yang sudah-sudah, seperti kasus nenek Minah yang pernah sangat viral di media, beliau di vonis 1,5 tahun hanya karena mencuri tiga buah kakao yang harganya tidak lebih dari Rp. 10.000. lebih lucunya lagi kasus tentang pencurian sandal jepit yang di lakukan oleh pelajar umur 15 tahun, di Palu, Sulawesi Tengah. Bayangkan, hanya karena sandal jepit, dia di vonis bersalah dan sempat terancam kurungan maksimal lima tahun penjara. Tapi akhirnya dia di bebaskan dari hukuman dan di kembalikan kepada orang tuanya.

Entah apa yang sebenarnya di pikirkan oleh sang pelapor, sehingga masalah sepele itupun harus diurus. Apa mereka terpaksa mengada-ada kasus agar para penegak hukum dapat bekerja, karena jika tidak ada kasus, apa yang mesti mereka kerjakan, ini pun juga hanya perspektif mengada-ada dari saya. Sebenarnya jika saja sang pelapor tidak melaporkan tindak pidana yang dilakukan oleh rakyat kecil itu dan menggunakan sistem kekeluargaan atau cara damai semua masalah sepele itupun akan cepat selesai, tidak ada complain apalagi protes. Kecuali jika pelaku melakukan tindakan pidana tersebut secara terus-menerus dan mulai meresahkan masyarakat lebih baik itu dilaporkan.

Di sisi lain, rakyat kecil yang melakukan perbuatan itu bisa jadi karena faktor keterpaksaan untuk mencari nafkah atau menyambung hidup serta ketidaktahuan bahwa perbuatan tersebut termasuk tindak pidana. Hal itu sungguh memilukan, maka dari itu perlulah diadakannya pendidikan publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hukum, sehingga diharapkan dapat meminimalisir kasus-kasus kecil seperti itu. Dan untuk masalah pencurian sandal jepit, di sisi lain jika masyarakat terus memberikan protes di khawatirkan masyarakat secara tidak sadar mendukung pencurian yang dilakukan rakyat kecil tersebut untuk selalu dibebaskan yang mana dapat membangun generasi anak bangsa melakukan perbuatan mencuri dan itu tidak baik dalam budaya dan penegakan hukum di Indonesia.

Maka dari itu, perlulah reformasi hukum seperti penataan kembali struktur dan lembaga-lembaga hukum yang ada termasuk sumber daya manusianya yang berkualitas, perumusan kembali hukum yang berkeadilan, peningkatan penegakan hukum dengan menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran hukum, pengikutsertaan rakyat dalam penegakan hukum, pendidikan publik untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap hukum dan penerapan konsep Good Governance. (Baca : Contoh Kasus Hukum di Indonesia Beserta Analisisnya)

Tetapi menurut saya strategi simpel yang sangat mudah dilakukan untuk penegakan keadilan hukum dalam perspektif sosiologi itupun sepele juga sebenarnya. Seperti yang sudah saya jelaskan diatas, apa susahnya jika pelapor tersebut atau pihak yang mempunyai hak milik perkebunan kakao dan sandal jepit tersebut untuk mengadakan sistem perdamaian atau kekeluargaan, yakni dengan penyelesaian masalah tindakan pidana kecil seperti itu untuk tidak perlu di ekspos hingga tuntutan pengadilan terutama sampai menyebar pada media massa, sesimpel dan semudah itu saja, masalah sepele itu akan selesai. Tapi itupun membutuhkan kesadaran akan humanisme pada diri masing-masing. Dan jika memang rakyat kecil seperti itu tidak tahu-menahu soal hukum, apalagi jika tidak tahu bentuk tindakan pidana itu seperti apa, maka strategi yang tepat ialah mengadakan pendidikan publik kepada masyarakat tentang hukum untuk meminimalisir tindakan pidana kecil.

Sebenarnya bukan hanya masalah rakyat kecil saja yang biasa menjadi korban. Jika kita telaah, pejabatpun juga bisa menjadi korban dari hukum yang direkayasa, apalagi jika motif utama karena persaingan yang entah apa tujuannya. Dari kasus Antasari Azhar misalnya, yang di duga terlibat atas kasus terbunuhnya almarhum Nasrudin Zulkarnaen. Saya memang tidak mengetahui secara spesifik perihal alur kasus ini, dan saya juga tidak ingin menyudut kepada siapa atau siapa, tetapi ketika saya membaca sebuah buku dari Tofik Pram yang berjudul “Antasari Azhar, Saya di Korbankan” itupun sempat membuat saya tercengang tentang dunia hukum, selucu itukah hukum di buatnya, hukum yang seharusnya rasional tetapi di buat seperti panggung teater.

Kasus di rekayasa, tersusun dan terencana sangat rapi, dan banyak kepalsuan dalam proses upaya penegakan hukum hanya karena untuk kepentingan penguasa tertentu, hukum seakan-akan dijadikan alat untuk mengkriminalisasi dan membunuh karakter orang lain. Sekali lagi, tidak bermaksud untuk berpihak pada ini atau itu, saya hanya tercengang perihal kasus yang ternyata bisa direkayasa dan terencana dan serapi seperti itu, tetapi serapi-rapinya dan sepintar-pintarnya rekayasa tersebut pasti kejanggalannya akan tetap terlihat. Membaca kasus Antasari ini sungguh membuat saya seperti membaca komik Conan. Wkwk.

NB : Well, yang lebih tahu tentang hukum mungkin tulisan ini bisa dikoreksi.

Cerita Senja

CerpenMungkin aku memang tak akan pernah mengerti, untuk kedua kalinya dalam persiapan perjalanan pulang aku melihatnya terdiam seorang diri di atas ayunan bangunan historic yang luas itu. Mengayunkan kakinya secara perlahan, seirama dengan kondisi jiwanya. Dengan ke-sok tahuan-ku, sepertinya ia seorang pemburu panorama, terlihat jelas jenis benda apa yang sedang ia bawa. 

Mungkin juga aku tak ingin peduli, sungguh aku tak ingin peduli. Tetapi dengan gaya jiwa dan emosi yang seperti itu sungguh menarik perhatianku. Ada teka-teki yang memang tak akan pernah kumengerti, sendu senja yang menggelitikkan hati. Aku sudah mencoba untuk tidak peduli, aku memilih mengincar pemandangan bangunan yang akan kupotret berkali-kali.

Terdiam menikmati, dan terlihat jelas para pengunjung bersiap untuk kembali sembari mangabadikan senja yang terlihat berbeda kala itu. Tidak usah heran, itulah yang mereka kerjakan, itu kesenangan, itu hobi, mereka tak peduli. Aku tersenyum, kapan lagi bisa bertemu senja seindah ini? Sungguh itu tempat yang menjanjikan.

Sedikit demi sedikit tempat itu mencapai titik kekosongan. Temanku menarik lenganku sambil berlari, memperingatkanku untuk segera turun dari bangunan historic itu. Memang, mendekat adalah sesuatu yang tidak mungkin kulakukan dan menjauh adalah sesuatu yang sangat dianjurkan. Dalam detik menuruni tangga, pikiranku hanya terlintas dengan satu tanya. Siapa namamu?

Semarang, 06/06/2017

PELARIAN

Aku dikenalkan pada sebuah tempat

Penggeliat segala rasa,

Rindu, lelah, bahagia

Tentang mimpi-mimpi dan kesibukan omong kosong

Tak peduli tugas apapun yang sedang menggeliat dikepalaku,

Yang jelas aku butuh tempat itu.

Tak peduli sudah seberapa kali aku datang, 

Aku tak akan pernah merasa bosan. 

Tak peduli mengapa aku selalu memilihnya,

Aku tak akan lupa setiap kenangan didalamnya

Tak peduli seberapa hafal aku dengan bangunan-bangunannya, 

Aku tak akan berhenti memotretnya

Itu kesenangan, 

Itu hobi,

Aku tak peduli. 

Memory Narasi

Jika Membaca adalah Melawan, Maka Menulis adalah Bergerak

BadrulMozila.com

Tambah Pengetahuanmu Mengenai Dunia Wisata

Komorebi

"Perkecillah dirimu, maka kau akan tumbuh lebih besar dari dunia. Tiadakan dirimu, maka jati dirimu akan terungkap tanpa kata-kata" -El-Rumi-

agusjumadirauf

ilmu adalah senjata tuk menaklukan dunia

Jagotelu

Usaha Kreatif Batik Nusantara

LITTLE DREAMER

I'm not a writer. Looking for Inspiration or something amazing? It's not here.

'SULISTYO CAHYO RAMADHAN'

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh seorang pemuda - Tan Malaka

Review Tales by Jeyran Main

Professional Book Editor - Marketing Advisor - Book Reviewer

batching plant operator

batching plant operator

Aku Dewi

RASA AKSARA

hadziqrshd

Reflection of the curious

Lorem Ipsum

i like your lorem and i think we should ipsum.

joanneclaudya.wordpress.com/

Joanne Claudya Ambakaraeng ♥

Dusun PUNGLI...PemUda peNGgerak LIngkungan

Pemuda kudu biso mrantasi...

_RondA_maLEm_

Just another WordPress.com weblog

Winny Marlina

Whatever you or dream can do, begin it!