Pada pertengahan bulan Februari kemarin, terdapat kasus oleh Pegawai Negeri Sipil dari Sanggau, Kalimantan Barat, yakni Fidelis Arie Sudarwoto yang ditangkap oleh BNN (Badan Narkotika Nasional) karena terbukti menanam 39 batang ganja di halaman rumahnya. 

Baca juga : Pro Kontra Legalisasi Ganja Terkait Kasus Fidelis Arie Sudarwoto

Berdasarkan keterangan yang saya dapatkan dari media Metro tv, Fidelis terpaksa menanam ganja dirumahnya dengan alasan untuk pengobatan istrinya yang mengidap penyakit Syringomyelia (kista sumsum tulang belakang). Fidelis mengatakan jika istrinya memang mengalami perkembangan positif selama mengkonsumsi ganja tersebut. Tetapi setelah 32 hari Fidelis ditahan, istrinyapun meninggal karena tidak mendapatkan perawatan secara khusus dari Fidelis. Dari pihak keluarga Fidelispun tidak mengerti bagaimana cara merawat istrinya itu karena Fidelis merawat istrinya dengan cara-cara dan ruangan yang khusus. Untuk mengatur suhu kamarnyapun dengan pengaturan yang khusus dan tidak boleh salah. Dan Fidelis juga meracik sendiri ganja yang digunakan obat tersebut secara khusus.

Dari kasus inipun timbullah berbagai pro kontra legalisasi ganja untuk medis. Di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris ganja dilegalkan untuk kepentingan medis, tapi itupun tetap dengan penjagaan atau pengawasan yang ketat. Di Indonesia sendiri, dari Menteri Kesehatan enggan untuk melakukan penelitian terhadap ganja karena itu pasti akan menghabiskan banyak biaya. Dan jika kita menengok kembali UU Narkotika itupun akan menjadi sulit jika ganja bisa dilegalkan, sebaiknya untuk hal-hal lain saja.

Satu hal lagi yang membuat saya penasaran adalah dengan adanya komunitas LGN (Lingkar Ganja Nusantara). Mereka punya data-data lengkap tentang ganja dan mengapa negara-negara tersebut punya hak untuk meneliti ganja. Mereka juga melakukan pergerakan atau kegiatan positif yang berkaitan dengan ganja. Mereka juga berharap dan mendukung jika ganja bisa dilegalkan untuk hal medis. Tapi walaupun begitu, saya juga belum begitu mengetahui secara spesifik tentang komunitas LGN ini.

Lalu apa hubungannya kasus ini dengan teori sosiologi hukum klasik dari Max Weber? Baik, disini saya akan mengkaitkan kasus ini dengan pernyataan Max Weber yang mengatakan bahwa ada 2 cara untuk mendapatkan keadilan. Yang pertama, dengan berpegang teguh pada aturan hukum, dengan dasar yang benar adalah menyesuaikan diri dengan logika sistem hukum yang bersangkutan. Yang kedua, dengan cara memperhatikan keadaan maksud para pihak dan syarat hukum lainnya. Maka, seorang hakim dapat mengambil keputusan atas dasar aturan-aturan hukum belaka atau setelah dia mendapatkan keyakinan dalam dirinya tentang apa yang sebaiknya diputuskan.

Jadi menurut saya, begitulah hukum Indonesia. Hukum Indonesia akan selalu melihat ke depan dan tidak akan pernah menoleh kebelakang, maksud saya disini adalah hukum di Indonesia itu akan selalu berpegang pada aturan hukum dan rasionalitas Undang-Undang, ini seperti salah satu pernyataan dari Max Weber untuk mendapatkan keadilan yang saya sebutkan diatas. Dan menurut saya, hukum Indonesia itu juga terlihat kaku dan tidak akan pernah bersifat humanis walau sudah ada bukti-bukti dan alasan yang tergolong positif, apapun itu. 

Ganja akan selalu ditolak dengan alasan tetap mengikuti aturan hukum yang ada. Walau bagaimanapun juga Undang-Undang adalah rajanya, Fidelis bisa saja punya alasan menggunakan ganja untuk medis, tapi tetap saja, pada intinya dia menggunakan ganja tersebut dan itu tetap melanggar Undang-Undang. Contoh lain saja kasus pencurian kayu dan sebatang coklat. Apakah mereka diberi keringanan hanya untuk hal-hal sepele seperti itu? Tentu saja tidak, mereka tetap disidang. Seorang hakim pasti tetap teguh pada aturan dan rasionalitas Undang-Undang bukan? Tidak ada kata-kata humanis untuk menjalankan hukum. Tidak ada.

Ini cuma opini saya iya readers, jika punya tanggapan silahkan bagikan di komentar.

Advertisements