Well, sekarang gue lagi tertarik-tertariknya dengan berita kasus penanaman ganja oleh Fidelis Arie Sudarwoto, yakni warga Sanggau, Kalimantan Barat yang ditangkap pada pertengahan Februari kemarin. Dia terbukti memiliki 39 batang ganja yang dia tanam di depan halaman rumahnya.

Berdasarkan berita yang gue baca, Fidelis Arie terpaksa menanam ganja dirumahnya buat pengobatan istrinya Yeni Riawati (Almh) yang mengidap penyakit Syringomyelia (kista di sumsum tulang belakang). Katanya sih, selama mengkonsumsi ganja, istrinya emang mengalami perkembangan positif gitu, tapi sebelum istrinya sembuh, tet tot.. doi udah keburu diambil polisi dan istrinyapun meninggal, karena selama 32 hari itu Fidelis sudah ditahan.

Lagian, berdasarkan hasil pemeriksaan, Fidelis sendiri nggak mengkonsumsi ganjanya kok, apalagi menjualnya. Hmmm.. Nah, gara-gara berita ini juga, gue jadi tahu kalo ganja itu ternyata bisa dijadiin obat lho. Apa??! Obat??! Itu kan narkoba?! Yaps.. buat keperluan medis. Kalo penasaran alasannya kenapa, baca ini deh Kandungan Ganja

Lhah.. di Amerika dan Inggris sendiri, ganja udah digunakan sebagai bahan industri medis, kalo di China dan Jepang, disana ganja digunakan sebagai bahan baku industri kosmetik dan tekstil, gokiiil. Emang iya, kalo orang-orang sana tuh nggak main-main soal penelitian.

Di Indonesia sendiri, pada tahun 2014, dari pihak Yayasan Sativa Nusantara pernah mengajukan surat izin penelitian terhadap ganja kepada Kementerian Kesehatan. Tapiii hmm.. penelitian sampai sekarang belum dilakukan karena dari pihak Balitbangkes (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan) sampai sekarang belum membentuk tim peneliti. *apaan* 

Dari Menteri Kesehatan sendiri, Bu Nila F. Moeloek malah bilang kalo belum pernah mendengar bahwa kementrian yang ia pimpin memberikan izin untuk melakukan penelitian terhadap ganja sebagai obat, tapi mau di cek lagi gitu katanya. *ayo dong Bu menteri -_-* 

Dan dari pihak Badan Narkotika Nasional (BNN) sendiri menyuruh publik untuk menengok UU narkotika kembali. BNN menyangkal terhadap pernyataan yang mengatakan bahwa istrinya Fidelis meninggal gara-gara tidak mendapatkan pengobatan dari ganja.

Yap, begitulah hukum Indonesia, hukum Indonesia akan selalu melihat ke depan dan tidak akan pernah melihat ke belakang. Hukum Indonesia akan selalu kaku, dan tidak akan pernah bersifat humanis walau sudah ada bukti-bukti nyata sekalipun. *Entahlah, tapi.. begitulah hukum*

Dan sekarang, ganja masih dijadikan dilema. Kalo di negara-negara maju seperti Amerika dan Inggris, ganja sudah terbukti bermanfaat buat medis, kenapa disini slow banget menentukan penelitiannya. Yah.. mau meneliti tapi dibatasi dengan regulasi. Dari kasus Fidelis ini, menurut gue, seakan-akan dia mau memberitahu kalo ganja itu ternyata mempunyai manfaat untuk medis, tapi.. iya begitulah, walau bagaimana pun juga, UU adalah rajanya, salah nggak salah, tetap ditahan.

Jadi, menurut pendapat kalian, apa kalian setuju jika ganja dilegalkan untuk kepentingan medis atau menolaknya dengan alasan tetap mengikuti aturan hukum yang ada???.

Advertisements