Arabic english

Source : google

Setelah resmi lulus dari asrama tahun lalu, saya memang sudah memantapkan untuk memilih kos saja, tidak akan memilih asrama lagi. Pikiran saya pada saat itu masih cetek, pokoknya yang penting ndang cepet keluar, ndang bebas. Maklum, pengalaman pertama kali mondok dan itu adalah salah satu kalimat obsesi dari seorang santri (*abal-abal) yang merasa tersiksa. Tapi bukan, mungkin lebih ke resiko dengan pilihan.

Semester 3, akhirnya saya berubah menjadi anak kos, ada teman yang menyayangkan saya karena memilih ngekos, ada juga yang biasa saja menanggapinya.

Temen : “Arika, kamu sekarang dimana, mondok lagi?”

Aku : “Nggak, aku ngekos ik, didepan kampus.”

Temen : “Yah.. kenapa nggak mondok lagi aja yang ada program bahasanya, eman-eman lho.” (*Yailah perhatian banget sik)

Aku : “Entahlah, ntar aku pikir-pikir lagi, hehe..” (dalem hati : ya soalnya aku pengen merasakan bebas)

Saya menjalani hari-hari dengan biasa, kosnya juga sangat nyaman, dekat kampus and of course Pak Kos yang ramah lingkungan (*telat bayar bulanan pun tidak ditagih, wkwk). Tetapi semakin kesini dan semakin kesana (lho?) Saya mulai merasa jenuh, kenapa? Tidak ada kegiatan!

Ya walaupun saya sudah berusaha aktif mengikuti komunitas ‘English Club’ untuk menunjang bahasa Inggrisku tapi itupun masih terasa jenuh. Tidak seperti kehidupan asramaku dulu, mulai dari kegiatan speech atau khitobah (*kegiatan ini yang paling bikin dag dig dug jeder oleh kebanyakan para santri, kenapa tidak? Kegiatan ini ibarat antara usaha penyeimbangan kekuatan hafalan, penguasaan materi pidato, dan pengumpulan mental untuk berbicara didepan banyak orang. Dulu malah sempat ada senior yang bela-belain sampai ke lantai lima hanya untuk menghafal speech, wkwk.. biar konsentrasinya super duper kali iya, kalau saya mah cukup praktik di depan kaca sambil menghafal dijauh-jauh hari itu sudah cukup). Lalu.. lanjut lagi di koyak-koyak otaknya dengan kegiatan conversation atau muhadatsah.

Yap, kegiatannya memang sangat padat, ketat dan teratur, belum lagi malamnya ngaji kitab kuning sampai jam 22.00 dan kuliah malam setiap hari Senin dan Selasa yang hanya bikin nambah ngantuk. Untuk berbicara sehari-hari disanapun hanya boleh menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab, tidak boleh menggunakan bahasa Indonesia apalagi bahasa Jawa. Pokoknya serba intelektualitas!

Dan jika aku renungkan, aku juga sangat menyadari bahwa semua pengalaman dan ilmu bahasa yang aku dapatkan dari sana sangat bermanfaat untuk penunjang kuliah, terutamanya untuk bekal pengejaran skor TOEFL dan IMKA , tapi aku masih cetek lah untuk hal ini. Di mata kuliah pun juga begitu, saya merasakan manfaatnya, karena beberapa dosen ada yang menerapkan bahasa. Contoh saja dosen saya yang satu ini.

“Baik, sistem kontrak belajar saya mungkin agak berbeda dengan dosen-dosen lainnya. Khusus untuk mata kuliah saya ini kalian harus presentasi dengan menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab…  ‘My Class is full English and Arabic only…….”  No Java, No Indonesia!

“Weeeeehhh.. wa we wa we” Sontak kelaspun menjadi rame 😂😂😂”

“Apa pak??! lha yang tidak bisa bahasa gimana pak??”

“Tidak ada alasan untuk tidak bisa, mata kuliah saya ini hanya sekali dalam seminggu, kalian ada waktu 6 hari untuk menerjemahkan buku yang sudah tadi saya tetapkan, kalian harus bertanggung jawab memahami isi, bukan hanya menerjemahkan dan menyampaikan didepan teman-teman kalian.”

Dan pada liburan semester 3 kali ini saya mencoba berpikir-pikir lagi. Ada seorang teman saya yang menawarkan untuk daftar di asramanya lewat jalur reguler, aku juga tau pondok itu ada program bahasanya. Hmm seolah-olah inilah jawaban dari kebimbanganku selama ini (*ceilah). Lalu aku mencoba bertanya pada Ibuku.

“Bu, gimana kalo aku daftar mondok lagi? Hehe”

“Oh, nggak apa-apa, daftar aja nduk, justru itu malah bagus. Tapi apa kamu yakin? Dulu saja kamu ngotot pengen ndang cepet keluar dari asrama karena nggak krasan, tapi kenapa sekarang pengen mondok lagi?”

“Hehe.. (*malah nyengar-nyengir) bosen ngekos Bu.. anakmu butuh sentuhan rohani 😂😂😂”

Yap, dan tepat pada hari ini akhirnya aku memutuskan untuk mengikuti seleksi penerimaan santri, tes nya ada 3 tahap, yang pertama tes tulis bahasa Inggris dan Arab, bagian ini adalah tes yang menurut saya paling menjengkelkan. Dan gara-gara tes ini pula saya berhasil menyimpulkan tipe-tipe anak yang menguasai bahasa Inggris, yakni ada 3 macam :

1. Anak yang jago grammar, tenses, dan speaking nya oke. Semuanya dikuasai. Bahasa Jawane : emang wes terah pinter.

2. Anak yang jago/peduli grammar dan tenses tapi speaking nya mlempeemm. Mental ngomongnya kurang. Lhaahh aku ada nih teman yang seperti ini, dia tenses nya oke, tapi kalau giliran di suruh ngomong, yaahhh langsung kikuk katanya, wkwk.

3. Anak yang nggak peduli grammar dan tenses dengan prinsip pokoknya yang penting speaking! (“Lhaaah ini gue nih, wkwk). Pokoknya yang penting ngomong dulu, lumayan buat ngasah vocabulary. Tapi ya tetep merhatiin struktur kalimatnya juga biar pada paham, kalau perlu tulis dulu aja dikertas, baru diomongin. It’s prepare. Soal grammar dan tenses, bodoamat! Wkwk.

Lalu sesi kedua adalah tahap interview. Aku kira ini sesi yang paling menegangkan, tetapi ternyata biasa saja, hanya ditanya Jurusanmu apa? Punya pengalaman? motivasi kenapa ingin masuk pondok ini apa? Dan bla bla ble ble lainnya. Setelah itu lalu disusul sesi terakhir yakni tes mengaji. Sebelum balik akupun mencoba tanya ini itu tentang peraturan di pondok itu, yaa tidak jauh beda dengan yang dulu, tapi yang ini lebih luwes, tidak terlalu ketat.

Advertisements