Masak Mie Instan Antimainstream

Gara-gara ada long weekend, hampir semua anak kontrakan kemarin memutuskan untuk pulang kampung. Sebenarnya setelah pulang dari PPL saya juga sudah siap-siap packing pulang ke Kudus. Tapi saya masih santai-santai saja dulu sembari melihat keributan teman-teman saya yang mau balik ke peradabannya masing-masing.

Ada teman saya Eka, yang mau pulang ke Pekalongan, Farchi pulang ke Kendal, Iqbal pulang ke Tegal, Iftah dan Novi yang pulang ke Semarang aja (kos). Kemudian disusul Roshif, Nefi dan Abror yang juga balik ke Semarang. Tinggal Saya, Faza, Rizza, dan Wahib yang masih mantengin kontrakan. 

Kemarin saya sudah nyiapin tas ranselku dan sudah pakai jaket. Tapi setelah turun dari kamar dan melihat kenyataan yang berada diluar ternyata hujannya deras. Saya nungguin sampai Ashar bersama teman-teman saya di ruang tamu masih aja nggak reda-reda, nungguin lagi sampai jam 4 masih juga nggak ada habisnya itu air, sampe jam 5 sore aku pantengin terus itu hujan dan hasilnya haddehhh.. 

Gagal Pulang“.

Lalu salah satu teman saya berceloteh,

Wahib : “Buat Mie enak kiii”..

Yah, karena gagal go home apalagi keadaan sedang hujan. Alhasil kita semua berasa laper dan akhirnya pada beli Mie Instan di warung depan (andalan setiap kendala).

Nah, waktu habis Maghrib ketika kami mau masak mie sama-sama di dapur, saya melihat ada hal aneh yang dilakukan teman saya “Faza”.

Masak mie instan antimainstream

Kelakuannya Faza saat di dapur

Saya dan Rizza mlongo..

Aku : “Lho Za, kok plastik bungkusnya ngapain kamu cemplungin ke wajan juga..” (mlongo)

Rizza : ” Iyo Za, kok gitu za..” (mlongo)

Faza : “Iya, aku kek gini masaknya, kalo mie nya banyak, jadi aku bolong dikit tu bungkus langsung cemplungin ke wajan, nanti kalo udah mateng air yang masuk dibungkusan itu dibuang lalu mie nya taruh di piring, jadi nggak ribet. Di warung-warung juga katanya ada yang seperti ini. Jadi malu aku kan masaknya gini, udah kalian pergi aja dari dapur.. hahaha (isin).

Aku dan Rizza saling berpikir dan keheran-heran. Lalu tiba-tiba ngakak bersama. Teman saya Wahib nggak terlalu heran, karena sudah melihat hal seperti itu sebelumnya, tapi tetap aja ngakak.

Rizza : “Eh Khoir.. mending iki to foto terus dadikke story, hahahahhahaa”.

Aku : “Iyo iki wkwkwk”

Faza : “Hahasemm.. jahat koe koe kii..”

Lalu teman-teman saya rame komen di WhatsApp : “eh apa-apaan..” “maksutee..” “piye kui..” “hee bisaneeee” wah, antimainstream..” etc.

Jadi seperti itulah ceritanya kenapa bisa bungkus mie instan itu bisa di cemplungin juga di wajan. Hahaha.

NB : JANGAN COBA-COBA MENIRU. 

Advertisements

Beda, bosan.

Hari ini aku pindah PPL ke Pengadilan Agama Demak, dan kesanku ketika sampai disana iyaaa biasa saja. Aku justru mengapresiasi perawatan taman disekitar pengadilan yang asri layaknya perkebunan mini. Suasananya memang berbeda dengan PN, aku masuk PA kepalaku langsung ruwet. Bakal banyak konflik rumah tangga merajalela. 

Hmm saat masuk aku juga menemukan hal yang imut disana, ada tempat permainan anak-anak kecil, kayak telusuran gitu, warna-warni. Sambil jalan aku mikir, fungsinya buat apa iya itu ada di pengadilan agama, iya paling buat begituan, anggap saja itu untuk “respect for children”, seperti itu. Mungkin. 

Hari pertama di PA tadi jadwalnya cuma mantengin sidang doang, begitu terus sampe kehabisan cairan. Membosankan sekali Ya Allah, ngliatin sidang pertama orang bertengkar mau cerai membuat kepalaku tambah pusing, sidang kedua kepalaku mulai ruwet, sidang ketiga dan seterusnya aku mulai kekurangan cairan=ngantuk. Ngliatin sidang membuatku berdo’a semoga suatu hari nanti ketika aku sudah berkeluarga kalem damai harmonis. Amin.

Pas absen di bagian informasi, “Besok maksimal ke PA jam 08.15, kami hanya beri toleransi 15 menit saja, yang lain tolong dikasih tahu..”

Masuk konflik keluar konflik. 

Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Pengadilan Negeri Demak

PPL pengadilan negeri Demak

Demak, 29 Januari 2018 – Adalah hari pertama saya dan 19 orang teman lainnya menjalankan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di Pengadilan Negeri Demak. Waktu itu sebelum melakukan kegiatan di Pengadilan, kami mengikuti apel pagi terlebih dahulu bersama para pejabat pengadilan sekitar pukul 08.00 WIB. Setelah itu kami memasuki ruang sidang untuk mengikuti acara penerimaan peserta PPL dan mengikuti arahan terutama pengenalan dari Wakil Ketua Pengadilan Negeri Demak, beliau adalah Bp. Agam Syarief Baharudin, SH., MH. 

Setelah penerimaan peserta PPL yang didampingi DPL (Dosen Pembimbing Lapangan), mahasiswa diberi penjelasan mengenai tata tertib di pengadilan dan penjelasan umum lainnya yang berkaitan dengan pengadilan. Setelah itu kami di bagi kelompok dan ditempatkan pada masing-masing ruangan. Diantaranya ada di bagian kepaniteraan hukum, kepaniteraan perdata, kepaniteraan pidana, umum, UP (Urusan Kepegawaian) yang sekarang​ berubah menjadi sub bagian kepegawaian, dan ruang IT.

Pada hari pertama saya kebagian di ruang kepaniteraan perdata bersama 2 orang teman saya. Selama 2 hari saya belajar dan praktik di ruang tersebut. Belajar membuat relaas dan akta permohonan upaya banding dalam kasus perdata. Tapi kebanyakan kami lebih sering bertanya-tanya tentang tugas kepaniteraan perdata dan melihat-lihat berkas atau dokumen. Di situ juga kita belajar tentang tugas-tugas apa saja yang dikerjakan oleh juru sita. Dan kemarin saya rolling, pindah ke ruang kepaniteraan hukum, lalu saya dan 2 orang teman saya ditugaskan di ruang arsip perdata. 

Hal yang menarik bagi saya saat berada di pengadilan adalah nonton sidang. Sepertinya itu sudah menjadi hobi yang memang harus dilakukan untuk memahami bagaimana jalannya hukum acara pidana dan perdata di Pengadilan Negeri Demak ini. Saya seringkali memerhatikan dan mencatat hal-hal yang dilakukan oleh Hakim, Jaksa, Panitera, Saksi, Kuasa Hukum Penggugat atau Tergugat saat jalannya persidangan. Memerhatikan apa saja yang perlu dibicarakan oleh seorang Hakim dkk dan urutan-urutannya saat jalannya persidangan. Jujur saja, saya lebih tertarik sidang kasus pidana daripada perdata. Menurut saya kasus perdata itu “more complicated“, ruwet dan membosankan, hahaha. Lebih menarik lagi ketika nonton sidang kasus pembunuhan, itu sangat menggugah sekali, semua peserta PPL langsung memerhatikan sidang dengan seksama.

Tapi bagaimana pun juga tata tertib di ruang sidang perlu diperhatikan. Beberapa hal yang tidak boleh dilakukan diruang sidang adalah makan dan minum, tidak boleh bersuara, handphone di silent atau kalau bisa dimatikan, peserta PPL juga harus izin dulu dengan Hakim jika ingin mengambil foto, jangan asal jeprat-jepret (terutama seorang wartawan yang ingin masuk ke pengadilan). Dudukpun diatur tidak boleh “nyingkrang” karena akan terlihat tidak sopan dihadapan seorang Hakim. Yabegitulah.

Dan hal menarik lainnya ialah ketika mendengar pernyataan dari Pak Agam (WKPN PN Demak) mengenai saksi. Bahwa saksi bisa diperiksa secara serentak, karena dalam KUHP yang pada intinya hanya menyatakan “saksi dipanggil satu-persatu” bukan “diperiksa satu-persatu“, tujuannya tentu untuk mempercepat waktu sidang. Dan kemarin ketika Pak Agam menyampaikan materi tentang hukum acara pidana, di pertengahan materi beliau bercerita bahwa dulu pernah melakukan kesalahan, menjatuhkan hukuman pidana terhadap orang yang tidak bersalah. Beliau tiba-tiba meneteskan air matanya. Teringat.

Sajak Rintih

Sajak Arika Khoiriya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun duri sedang senang menusuk nalurinya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun angin kencang menyeruak runtuh raganya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun rona rembulan enggan menampakkan sinar kepadanya

Setiap orang berhak bahagia,

Sekalipun bumi sudah tidak ingin lagi melihat langitnya

Dan setiap orang juga berhak bahagia,

Sekalipun mimpinya selalu ditekan dengan omong kosong dunia

Larut dalam tangis, 17-01-’18

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Perjalanan 3 hari di Desa Dukuhwaringin

Pada tanggal 16 Desember 2017 lalu saya pulang ke Kudus untuk melakukan survei di Desa Dukuhwaringin Kecamatan Dawe Kabupaten Kudus. Selama 3 hari saya berhasil menyelesaikan penelitian tersebut dengan bantuan teman saya yang bernama Mega. Awalnya saya ingin memutuskan pulang dari Semarang langsung menuju ke Desa Dukuhwaringin, tapi sayangnya saya belum mengetahui dengan ngeh lokasi desa tersebut, ‘Pokoke ngliwati Colo’ begitulah kebanyakan orang mengatakan, itu berarti lumayan jauh dari rumah saya, jadi saya memutuskan untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, sambil menyiapkan berkas dan mencari tahu tentang Dukuhwaringin, terutama Kepala Desanya.

17 Desember 2017, hari itu juga saya berhasil menemukan Kantor Kepala Desa Dukuhwaringin​, karena hari itu hari Minggu, kantor tutup. Jadi saya langsung ke rumah Pak Kepala Desa, namanya Pak Aris Istiyanto. Beliau baik walau agak cuek, tapi setidaknya terimakasih sekali sudah mengizinkan saya untuk survei disana. Dari sini saya jadi tahu bahwa kita memang tidak bisa sembarangan masuk desa tanpa ada surat keterangan survei yang resmi.

Saya pernah berpikir, kenapa rumah Kepala Desa itu pasti kebanyakan tak jauh dari Balai Desanya? 

Well, karena informasi berkas yang saya butuhkan untuk penelitian berada di Kantor semua, jadi Pak Kepdes tidak bisa membantu banyak, beliau hanya bisa menyarankan datangi saja setiap Ketua RT yang berhasil terpilih sebagai sampel, atau pilih besok hari Senin saja ketika kantor buka. Tapi karena saya juga dikejar waktu, mau tidak mau saya harus mencari tahu langsung.  

18 Desember 2017, saya langsung pergi ke balai desa untuk meminta data dari perangkat desa, disana diberikan pelayanan yang baik, saya suka. Dan setelah mendapatkan data yang sudah cukup membantu akhirnya saya bisa terjun wawancara dari rumah ke rumah. Hari itu hanya berhasil mendapatkan 6 responden saja, itupun susahnya minta ampun untuk mencari alamat setiap warga yang terpilih menjadi sampel tersebut. Sampai-sampai saya dan teman saya hafal jalan setiap RT disana, dan nama perangkat desapun saya juga hafal, karena beliau-beliau yang sering membantu, terimakasih sekali.

19 Desember 2017, Hari dimana saya harus menyelesaikan survei tersebut secepat mungkin karena..

esoknya..

saya..

ADA UAS DAN BANYAK TUGAS YANG BELUM TERSELESAIKAN!!!

Yak, hari itu juga saya akhirnya berhasil melengkapi dengan 4 responden, pada responden terakhir adalah Pak Ketua RW 02 Dukuhwaringin sendiri, namanya Pak Selamet. Beliau baik, ramah dan humoris. Waktu itu kebetulan beliau dan istrinya berada di warung. Jadi saya dipersilahkan untuk wawancara disana saja. 

Selama wawancara, saya justru tidak fokus dengan quosioner nya, karena saya lebih banyak ngobrol dan tertawa dengan Pak Selamet, seharusnya yang harus saya wawancarai adalah Bu Surani, tetapi kadang beliau juga bingung sendiri untuk menjawab. Alhasil, yang selalu menjawab adalah Pak Selamet. Kita asyik membicarakan budaya politik disana, perkembangan desa tersebut, pariwisatanya, pupuk, pertanian, kinerja pemerintah jateng, partai politik, masalah yang di alami desa tersebut dan sebagainya dengan menggunakan bahasa yang ringan. Desa ini juga tergolong kecil sekecamatan Dawe, suasananya sepi, asri, tenang, pemandangannya juga bagus dan udaranya juga lumayan dingin. 

Seminar Regional Class; How To Be Digital Citizen Journalist

Pada bulan November lalu saya sering mengikuti seminar tentang dunia jurnalis, sejak saya mengetahui event Citizen Journalist Academy membuka workshop dan audisi di Semarang saya jadi penasaran dengan dunia wartawan. So, kali ini saya ingin membagi isi materi dari salah satu seminar yang saya ikuti satu bulan yang lalu. Walaupun tidak begitu lengkap, mungkin saja bisa bermanfaat.

Seminar ini adalah sesi Regional Class yang merupakan program para finalis Citizen Journalist Academy Semarang yang mengusung tema How To Be; Digital Citizen Journalist, seminar ini dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 10 November 2017 pukul 15.00 WIB bertempat di Ruang Seminar Gedung Pusat Lantai 2 Universitas PGRI Semarang. Pematerinya adalah Muhammad Syukron (Jurnalis Suara Merdeka) dan Edhie Prayitno Ige (Jurnalis Liputan6.com).

Seminar Citizen Journalist Academy Semarang

Pak Edhie Prayitno (Jurnalis Liputan6.com) saat menjelaskan materi di Gedung Pusat UPGRIS

So, ketika kita ingin menulis berita ternyata ada 3 unsur selain 5 W + 1 H gaes, namanya 3 E + 1 N, what’s that?

  1. Educating (mendidik)
  2. Enlightening (mencerahkan)
  3. Empowering ( memberdayakan)
  4. Nasionalisme (kebangsaan/NKRI)

Ketika acara berlangsung pemateri lebih suka sharing pengalaman daripada fokus pada materi. Dari Muhammad Syukron misalnya, seorang jurnalis Suara Merdeka yang mengawali hidupnya dibidang menulis dengan sering mengikuti lomba dan suka mengirim tulisan cerpen dan puisi ke majalah Aneka. Beliau juga sempat bercerita bahwa karena zaman dulu itu belum ada handphone, jika ada orang yang suka dengan tulisan beliau orang itu harus datang ke redaksi Aneka dulu lalu baru bisa mendapatkan alamatnya beliau.

And then, saya juga ingat satu pertanyaan dari mahasiswa pers pada saat itu, dia bertanya tentang saat perwakilan dari sebuah LPM ingin melakukan wawancara tetapi ditolak dan dilarang, menurutnya LPM seperti tidak ada kebebasan atau wewenang untuk melakukan suatu wawancara, padahal mereka juga berusaha mencari berita. Lalu Pak Edhie Prayitno (jurnalis Liputan6.com) menjelaskan bahwa “ketika kita ingin wawancara di sebuah tempat yang rawan misalnya, usahakan tidak usah membawa nama LPM segala atau pers apapun itu, ngobrol biasa saja dengan santai, pakaiannya juga tidak usah formal, yaa nyamar saja seperti pengunjung atau orang-orang lainnya, karena dari ngobrol itu justru kalian bisa dapat data banyak, saya saja sering hanya memakai sandal jepit dan celana pendek kok ketika terjun dilapangan”.

Well, saya jadi ingat waktu saya mengunjungi open perdana Wisata Pasar Karetan di Kendal, untuk mendapatkan informasi saya harus membeli jajanan sembari ngobrol pada salah satu pedagang Pasar Karetan, setelah bertanya ini dan itu dengan salah satu pedagang, alhasil saya berhasil mendapatkan banyak informasi.

Saya memang bukan anak LPM sih, karena dulu saya pikir genre (kiblat) LPM kampus saya itu pasti itu-itu mulu. Saya yang lebih suka menulis dengan bahasa ringan dan fun sepertinya tidak cocok untuk masuk di sebuah LPM. Jadinya sampai sekarang saya masih suka ngeshare pengalaman pribadi saya kepada teman sesama bloger buat dibaca dan yang terpenting itu buat melatih menulis. Karena jujur saja, saya masih kesulitan mencari waktu untuk bisa disiplin menulis, dan kadang tidak bisa cepat dan tepat waktu menulis setelah mengikuti event-event tertentu, padahal ingin sekali membagikan informasi secara up to date, tetapi susah juga.

Foto bersama finalis citizen journalist academy semarang

Pasar Karetan; Budaya Pasar Tradisional Bernuansa Pariwisata.

Pasar karetan

Acara berlangsung seru dikelilingi banyak wartawan

(Minggu, 05/11/2017) – Hari ini saya mengunjungi Radja Pendapa Camp, tepatnya di Desa Segrumung, Meteseh, Kec. Boja, Kendal, Semarang, guna untuk memenuhi rasa penasaran saya dengan open perdananya Pasar Karetan. Sebelum sampai lokasi, saya dan teman saya harus menaiki odong-odong terlebih dahulu untuk sampai tujuan, and you know what? that’s free gaes. 

Lho memangnya apa sih maksudnya Pasar Karetan? Well, nggak tahu juga sih yak, sesampainya saya disana ternyata lokasinya dekat sekali dengan hutan karet, mungkin itu sebabnya namanya jadi Pasar Karetan. Hahaha 😛

So, pasar rakyat ini ternyata hasil ide kreatif dari GenPI (Generasi Pesona Indonesia) Jateng, dimana mereka ingin menciptakan pasar tradisional yang juga mempunyai nilai pariwisata. Great!

Pasar ini dibuka mulai pukul 06.00 sampai 11.00 WIB. Saya tiba disana kira-kira jam 09.00 dan itu sudah dipadati dengan berbagai macam manusia dari berbagai kalangan. Nuansa tradisional nan artistiknya juga terasa banget karena banyak berbagai jajanan khas, mainan, dan juga tarian tradisional yang ditampilkan disana. Hal seperti inilah yang membuat saya tidak bisa lepas dengan kamera.

Pasar karetan

Penjual jajanan khas tradisional di Pasar Karetan

Pernyataan dari salah satu penjual jajanan tradisional mengatakan, ternyata penjual yang ditempatkan oleh panitia untuk berjualan disana ada yang berasal dari Pasar Johar dan Pecinan yang juga merupakan tempat wisata kuliner di Semarang. Padahal saya pikir dari warga-warga Kendal itu sendiri, ternyata bukan.

Pasar karetan

Seorang anak kecil sedang asyik melukis payung

Tidak hanya itu, disebuah spot bertuliskan “Radja Pendawa Camp” saya melihat terdapat banyak segerombolan anak-anak sedang asyik melukis payung, saya yang penyuka seni semakin penasaran dan tidak segan untuk mengambil jarak dekat untuk melihat proses melukis mereka. Lagi-lagi, hal-hal seperti ini, saya tambah tidak bisa lepas dengan kamera saya. So, this is very great culture and creative banget gaes, sepertinya tempat ini bakalan saya jadikan list tempat favorit saya yang kedua setelah Kota Lama, hahaha 😛

Nur Akhmad Tri Aji

Diver. Being natural. Life learner.

Rahmanu's Blog

Hej Hej! Apa kabar?

Berbagi Cerita

Di atas langit masih ada langit, di bawah tanah masih ada tanah, di dalam air masih ada air, dan di dalam kisah ada banyak cerita

TIMES OF LION

Exposing Truth

Cerpen Koran Minggu

Kompas-Republika-Jawa Pos-Suara Merdeka-Koran Tempo-Media Indonesia dan Lainnya

Arika Khoiriya

Stories, Literature and Articles

MEMORABILIA

Berjuang dan Berdoa = Kunci Kesuksesan

Nabeautysite

BEAUTY, LIFESTYLE, KPOP, AND QUOTES

CAHAYA

Belajar, Berusaha, Berdoa

sastramaya.wordpress.com/

ingat, kurangi makan dan tidur!

lutfianisa14

just be u'r self

LAW STUDENT

Curhatan Mahasiswa Hukum Memang Beda

Berpacu dalam motivasi

Art and attitude

Muhammad robby siregar

catatan harian manusia yang ingin hidup normal, kadang2 ada cerita bersambung juga.