Kehilangan Rockstar Dunia; RIP Chester Bennington

Akhir-akhir ini saya menerima berbagai berita baik pun buruk. Dari berita Setya Novanto yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus E-KTP oleh KPK, lalu HTI yang sudah resmi dibubarkan. Dan kabar Iqbal CJR yang resmi dijadikan peran si Dilan yang dapat banyak penolakan. Baca juga : “Dia adalah Dilanku Tahun 1990”

RIP Chester Bannington

Sumber : twitter.com

Dan hari ini juga aku dikejutkan dengan berita heboh meninggalnya Chester Bennington, vokalis band Linkin Park, band rock legendaris. Lagi-lagi dunia jagad permusikan kehilangan frontman terbaik. Sungguh memilukan, lagu-lagu Linkin Park adalah lagu yang menemaniku sejak SD sampai sekarang. Pilunya lagi, dia meninggal karena gantung diri tepat pada ulang tahun sahabatnya Chris Cornell yang sudah meninggal terlebih dahulu pada tanggal 17 Mei 2017 kemarin. Pilu. Mereka meninggal dengan cara yang sama.

Menurut yang dicantum oleh majalah Hai Magazine, penyebab si Chester meninggal ini karena dia sudah tidak kuat lagi melawan ketergantungan narkoba dan alkohol. Pun mungkin punya masalah-masalah lainnya yang membuatnya depresi. Hah.. jadi inget kasus kematian Kurt Cobain, frontman Nirvana.

Sebenarnya aku sudah tidak kaget kenapa kebanyakan para Rockstar itu selalu mendadak mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri, itu sudah menjadi teka-teki dari dulu. TAPI YA KENAPA HARUS TERJADI DI CHESTER BENNINGTON JUGA?!! Padahal Linkin Park baru saja mengunggah video lagunya yang terbaru berjudul “Talking to My Self” beberapa saat sebelum si Chester meninggal. Memang benar-benar pilu. Semua seperti sudah direncanakan.

Ah, yang jelas lagumu dari dulu sampai sekarang masih tetap asyik kunikmati. Rest in Peace, Legend.

“Si Juki”, Salah Satu Komik Indonesia Yang Harus Kamu Tahu!

Komik si Juki

Sumber gambar : google

Berawal dari kegemarannya membaca komik dari SD, Faza Ibnu Ubaydillah atau yang lebih sering disapa dengan Faza Meonk ini terpengaruh untuk menciptakan komik. Demi keseriusannya dalam dunia komik, jebolan SMK jurusan animasi ini juga melanjutkan kuliahnya dengan mengambil jurusan yang masih berkaitan dengan komik lho. (Baca: Sosok di Balik Sukses si Juki)

Adalah “Si Juki” karakter fiksi lokal yang berhasil ia ciptakan yang terkenal dengan kelakuannya yang antimainstream, absurd, geblek dan nyeleneh ini selalu berhasil membuat para readers ngakak sepanjang hari (termasuk saya). Sentuhan gaya slewengan dan kritik sosial yang funny inilah yang katanya menjadi tujuan dari komikus itu sendiri untuk menyampaikan opini isu-isu sosial lewat kreasi gambar (komik) kepada publik. (Baca : Isi Komik si Juki)

So, kalau memang karya dari tanah air kita sendiri saja sudah menarik, why not? Ajari anak muda lainnya untuk menyukai karya anak bangsa guys. Well, paling tidak itu bisa mengurangi kegelisahan terhadap perkembangan karakter lokal yang di anggap kurang populer kan. Dan si Juki inilah menurut saya salah satu contoh karya komik Indonesia yang patut dikembangkan dan patut di jadikan inspirasi. Salam kreatif.

Nih, Pak Jokowi aja baca lho! Wkwk

Pak Jokowi baca komik si Juki

Sumber gambar : Twitter/@JukiHoki

Gania, Vokalis Jebolan Band Indie

Gania Alianda

Source : instagram/ganialianda

Haloha! Kali ini saya mau membahas tentang siapa sih Gania? Siapa sih??! Karena banyak juga temen yang nanya perihal status-status di beberapa akun saya yang menyebut kata ‘Ganiaaa’ melulu, siapa sih emang, layaknya misteri. Bah. (Makanya hidup jangan hanya mantengin kitab kuning sama buku mulu, kan jadi nggak tahuan!! *Lho?). Maaf iya, sepertinya artikel ini memang tidak terlalu penting untuk dibaca oleh kalangan akademisi apalagi pemerintah.

Just have fun!

Yaps, Gania Alianda. Dia adalah seorang vokalis band indie asal Bandung ‘Billfold’ yang bergenre hardcore (kalau tidak salah, bodoamat sih). Sebenarnya menurutku suaranya Gania ini biasa aja, menang stylenya doang menurutku (maafkan aku mbak Gania). Ya, paling suka ketika gania nyanyi lagunya yang akustik. Lagian aku juga nggak terlalu ngefans sama bandnya. *Lahh terus 😲 karena apa iya.. entahlah.

She’s Lady Rocker.

Ketika pertama kali lihat Gania, ini cewek keren banget tidak seperti cewek-cewek lainnya yang it’s so menye-menye. Entahlah, baru kali itu aku menemukan wanita yang seperti itu. Beda dengan yang lain. So inspire lah intinya. Selain sibuk dengan dunia musik manggung sana-sini dia juga seorang usahawan muda dengan mendirikan sebuah butik yang dia desain sendiri. Produknya sudah sampai luar negeri. Dia orang yang kreatif, karena dulu dia lulusan jurusan Desain Komunikasi Visual, jurusan yang dulu gagal saya masuki 😭

Pernah suatu ketika saya mendapat kabar jika Billfold akhirnya konser ke Semarang, APAA??!! Iyaa kalau tidak salah itu pas semester tiga kemarin. Saya jerit-jerit histeris di depan teman saya, Puspita.

Alhasil.

AKU NGGAK JADI NONTON, DAN NGGAK KETEMU MBAK GANIA!😭 Beneran, padahal itu kesempatan saya untuk bertemu dengan Gania. Ya Allah tehhh semoga kita bisa bertemu lain waktu entah kapan dan dimana itu. Amin.

Yaudah Selamat malam 😭


Kisahmu Menginspirasiku

Kemarin aku terlena pada cerita dari sebuah novel, tentang sebuah perjalanan hidup seseorang yang sangat mengagumkan. Sangking antusiasnya dengan novel tersebut dalam perjalanan pulangpun aku sempatkan untuk membacanya. Kasus cerita-ceritanya yang cerdas berhasil membuatku penasaran setiap lembaran-lembaran berikutnya. Damn, novel itu memang lumayan tebal. 

Serius mengikuti alur cerita novel tersebut, sesekali aku melihat pemandangan luar, melihat jalan, sawah, bangunan-bangunan sampai lampu lalu lintas aku perhatikan. Aku melamun. Tapi memang disaat itulah semua benakku muncul, entah memikirkan tentang kuliah, umur, mimpi yang belum jelas, masalah yang belum tuntas, keluarga, teman, kehidupan dan sebagainya. Aku mendesah, hidup memang tak semudah itu.

Sampai saat melewati sepanjang jalan perkebunan karet berhasil membubarkan lamunanku. Ada sesuatu hal yang menarik perhatianku disana.

“Itu kenapa semua warga berkumpul di perkebunan karet? Ramai sekali”.

“Itu memang sudah tradisi ka, warga Jepara memang selalu melakukan hal itu ketika lebaran ketupat. Tidak hanya di perkebunan karet ini, di pantai pun begitu”.

“Ya ampun, aku baru tahu warga Jepara seperti itu”.

Tapi menurutku, tidak semua warga Jepara melakukan hal itu. Sebenarnya akupun juga hampir lupa jika kemarin adalah lebaran ketupat.

Aku asyik memperhatikan orang-orang yang seperti semut itu berkumpul di sepanjang perkebunan karet itu. Ada yang membawa makanan banyak sekali seperti mau jualan, ada yang asyik membakar ikan, ada yang hanya sekedar duduk-duduk bersama dengan tikar seperti sedang bertamasya, ada yang asyik foto-foto dan sampai ada yang membuat orkes kecil-kecilan untuk lebih meramaikan suasana. Pikirku, seheboh itukah merayakan lebaran ketupat? Who knows, itu sudah tradisi.

Lama kelamaan membosankan juga melihat orang banyak seperti itu, apalagi gara-gara acara tersebut membuat jalanan agak sedikit tersendat. Malas melihatnya, lalu aku memutuskan untuk kembali melanjutkan membaca novel, itu lebih berguna.

Sungguh gara-gara novel tersebut, aku jadi ingin tahu lebih mengenai firma hukum, apa saja tugas seorang pengacara sampai bisa menyelesaikan kasus cerdas seperti yang diceritakan novel tersebut, sepertinya memang menarik. Ya ampun, baru kali ini aku memikirkan tentang hal ini. Padahal aku dulu sangat membenci jurusanku sendiri, pernah dulu aku tak ingin menganggap jurusanku ini, sampai pada akhirnya sekarang aku bisa menerimanya. Entahlah, semuanya bisa berubah begitu saja seiring berjalannya waktu. Ah, tapi aku bodoamat sih, let it flows.

Lalu bagaimana dengan cita-citamu yang ingin menjadi seorang seniman atau seorang jurnalis di perusahaan majalah besar? 

Hahaha menulis dan menggambar itu hanya hobi. Entahlah.

Tapi cukuplah, semua ini bukan hanya tentang cerita novel itu saja, tapi sebuah percakapan di dalamnya. Malam itu, dalam perjalanan pulang sebuah pertanyaan penting melontar kepadaku.

Mas ipar bertanya.

“Kamu ini memang tidak pernah berbicara dengan Mas mu dirumah?”.

“Pernah, tapi hal-hal yang penting saja, dia lebih sering di kamar, kerja-pulang, kerja-pulang, seperti itu”. 

“Teruslah ajak bicara, menurutku dia hanya butuh teman”.

Kamu ini yang paling muda, kamu harus punya ide-ide jika ada masalah dalam keluarga.

Amanat macam apalagi ini, pikirku. Pertanyaan itupun hampir membunuhku, aku hampir tidak bisa menjawab. Aku juga baru sadar, ternyata selama ini aku terlalu cuek, Mas iparku telah menyadarkanku, kakak perempuanku hanya diam saja pada saat itu. Aku mendesah, aku merasa bersalah, seharusnya aku bisa berpikir lebih dewasa. Tapi apa yang harus aku lakukan???! Apa???!!

Mengingat masa lalu, masalah bodoh itu, yang hampir membuat kehabisan nafas. Sungguh apa yang bisa dilakukan untuk melawan perusahaan bodoh dan ulah para orang atas yang tidak bertanggung jawab. Kakakku beserta karyawan lainnya harus masuk jebakan lubang hitam tapi teman-temannya lari saat kakakku sedang jatuh-jatuhnya. Sungguh semua itu sangat bodoh sekali untuk dipertontonkan. Tanah milik Bapakpun terpaksa dijual, sisa uang seadanya itulah kenapa akhirnya aku bisa melanjutkan pendidikan bangku kuliah. Bersyukur sekali.

Ah! Hidup memang begitu unyu!

Band Australia ini Vokalisnya Berasal dari Indonesia lho! Mau tahu?

The Temper Trap

Vokalisnya yang pake knit cap warna orange

Dougy Mandagi, begitulah nama vokalis sekaligus gitaris sebuah band bergenre alternative rock yang berasal dari Australia, The Temper Trap.
Sebagai front man dari band The Temper Trap, si Dougy ini ternyata berasal dari Manado lho, yaps setelah merantau kesana-kemari dengan latar belakang cerita masa kecil yang it’s so ngalur-ngidul, dengan beberapa keluarganya akhirnya iapun menetap di Melbourne, Australia. Asik.

Si Dougy ini dulunya suka sekali menggambar lho, sampai ketika dulu ingin kuliah dan mengambil jurusan seni di Australia. Tetapi sepertinya dia belum beruntung karena tidak berhasil lolos masuk jurusan seni yang diinginkannya.

Karena gagal kuliah di jurusan seni, iapun memutuskan untuk menekuni bidang musik. And then, bertemulah dia dengan Jonathon (bass), Toby (drums), dan Lorenzo (kek nama pembalap gitu iya; guitar), dari pertemuan itulah terciptanya sebuah band bernama “The Temper Trap”.

Awalnya hanya manggung kecil-kecilan di acara-acara gigs di seluruh kota, sampai pada akhirnya mereka bertemu dengan produser legendaris Jim Abiss yang bersedia mengurus album pertama mereka “Conditions”. Produser ini juga yang sempat melambungkan nama band Arctic Monkeys dan The Kasabian. Untuk melejitkan karya album mereka selanjutnya si Dougy dan kawan-kawanpun pindah dari Australia ke Inggris.

Tuh, nggak kebayang kan seberapa fasihnya si Dougy dalam berbahasa Inggris, british pula. Sampai mungkin dia pasti lupa bahasa Induknya sendiri jajajaja. Yagitudeh kalo udah hidup di beda negara dan budaya.

Aku sendiri tahu lagu band ini yang berjudul “Sweet Disposition” ketika nggak sengaja ndengerin jingle iklan sebuah brand mobil ternama Indonesia beberapa tahun yang lalu, jajajaja.

Pas pertama kali liat iklan mobil TY (maaf, nama disamarkan) 

“Hmm? LAGUNYA SIAPA NIH,”. 

Dulu juga sempat aku nobatkan kalau iklan mobil T***** Y**** ini adalah iklan favorit gue, jajajaja. Sungguh bego nggak penting!

Jaaaaa ketahuan deh kalo ternyata searching lagu-lagu dari soundtrack iklan.

It’s OK, gini-gini juga ngerti musik dikit lah, karena dulu juga pernah main Marching Band, megang perkusi jajajaja. Tapi sekarang itupun hanya kenangan, hanya bisa melihat stick warna hijau yang dulu sering aku pakai untuk latihan. Duh, jadi rindu main lagi, wah gimana ini aku jadi merasa nostalgia gini, duh gimana nih, ah semua ini gara-gara Temper Trap sih! (Lho?)

Udahlah, nih, aku kasih bonus image.

The Temper Trap

Picture by Google

Tulisan Awal Lebaran

Lebaran kali ini mungkin aku merasa ada yang kurang, tidak seperti tahun lalu. Ya, lebaran pertama tahun ini terpaksa aku rayakan tanpa keponakan and of course tanpa kakak perempuan. Momen berharga (mudik) yang hanya mereka lakukan setahun sekali dan kali ini lebaran pertama mereka tidak dirayakan di Kudus. Sekarang gantian, kakak perempuanku harus merayakan lebaran pertamanya di Jogja, karena tahun lalu mereka sudah merayakan di Kudus. Jadi, sepertinya ada unsur teori keadilan disini, bah.

Ya aku mengerti, dan aku juga paham. Begitulah perempuan jika sudah menikah maka ia akan semakin menjauh (jarak). Apalagi jika masalah tempat tinggal keluarga pasangan yang tergolong memakan waktu yang lama, sehingga membuatku terkadang berasa… yaa aku kira semua pasti paham perasaan seperti apa yang kumaksud. Walau sedikit terobati dengan datangnya saudara-saudara, tetapi toh itu cuma sebentar bukan?

Andai semua hari itu hari lebaran. Pasti semua yang kembali tidak akan segera pergi, maka setiap rumah menjadi hidup. Yang biasanya berpenampilan cuek tapi karena lebaran mereka memikirkan busana yang lebih sopan. Yang biasanya tidak pernah silaturahmi karena kesibukan masing-masing tapi karena lebaran, mereka bisa melakukannya. Mereka bisa melakukan semua hal itu karena lebaran.

Anyway, berbicara soal warga desa, alhamdulillah tidak ada pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Pertanyaan mereka selalu masuk akal untuk keadaan dan usiaku saat ini, tidak ada pertanyaan yang melampaui batas. Tapi terkadang yang membuatku malas adalah aku di kira kakak saya dengan alasan kami begitu mirip, bah. (Yaiyalah namanya juga saudara), *masalahnya yang satu udah punya anak, lah ini yang masih muda masa di sama-samain aja gitu -__-*

Oh iya, ada hal yang menarik perhatianku kali ini. Ketika saya bertemu dengan dua orang guru saya. Yang sempat mempertanyakan mengambil jurusan apakah aku ini.

Bu (S) : “Ya, nanti kamu jadi hakim iya”.

Aku : “Amin..”. (with full smile dan rasa tidak yakin)

Dalam hati aku berbisik, “Orang kek gini kok mo jadi hakim, jajaja”.

Pak (R) : “Ya bagus, nanti usahakan teorinya di praktikkan bener-bener mbak, sekarang kan banyak itu bank yang berembel-embel syari’ah, coba saja bagaimana menjadikan semua bank itu syari’ah, haha“. 

Demi sopan santun aku ikut tertawa, walau sebenarnya aku juga tidak paham apa maksudnya tujuan pernyataan itu.

Dalam hati : “Andai panjenengan tahu pak, saya itu jurusan Hukum Pidana bukan Hukum Ekonomi, heu”.

Happy Ied Mubarak 1438 H.

Selamat Tinggal Semester Empat

Pulang kampungMinggu, 18 Juni 2017. Suatu hal yang sangat menyenangkan bisa menulis dalam perjalanan. Ya, hari ini aku pulang, bukan hanya sekedar pulang seperti biasanya yang bisa kulakukan setiap saat. Mungkin karena faktor bulan puasa dan hampir mendekati hari lebaran yang menjadikan suasana perjalanan terlihat berbeda. Orang-orang sibuk berbicara dengan tema “pulang kampung” dan sibuk membondong barang-barangnya. 

Well, walau tinggal seminggu lagi lebaran paling tidak aku bisa menikmati sisa puasa dengan keluarga, karena sebelum awal puasa sampai sekarang aku sudah mulai benar-benar merindukan rumah. Sebenarnya aku bisa pulang kapan saja, 2 Minggu sekali, 3 Minggu sekali, atau sebulan sekali, tergantung ada celah untuk pulang atau tidak. ‘Cause I know, jarak antara Semarang-Kudus itu juga tidak terlalu memilukan. Paling-paling karena akses perjalanannya saja yang kadang mengecewakan, yang seharusnya hanya menghabiskan 2 jam tapi ternyata menghabiskan 3 jam bahkan lebih. Maklum, bus life.

Tapi bukan, mungkin aku hanya merasa akhirnya beban-beban tugas dan UAS di semester ini akhirnya selesai juga. Walau ketika aku membayangkan apa yang harus aku lakukan pada semester lima nanti justru malah semakin berat. Ada dua hal yang membuatku harus bertanggung jawab di dua tempat yang berbeda. Beberapa target mungkin harus aku tulis lalu kutempelkan di dinding kamar seperti biasanya, biar hidupku jelas. Paling tidak hanya itu yang bisa kulakukan, selama aku belum mengetahui apa sebenarnya mimpiku.

Hasil dari semester empat ini sendiri ada beberapa hal yang berhasil aku capai, malah kadang ada hasil yang tak pernah aku duga sebelumnya, dan aku sangat bersyukur atas hal itu. Banyak hal yang aku lalui juga pengalaman berharga yang aku dapatkan di semester ini. Tapi walau begitu, ada satu hal yang gagal aku lakukan. But it’s Ok. Ini hanya masalah membagi waktu. 

Sebenarnya aku bisa saja pulang lebih awal, karena UAS ku sudah berakhir pada hari Rabu kemarin, tapi karena hari Sabtu aku diajak temanku pergi ke acara reuni akbar di asramaku yang dulu, jadi aku baru bisa pulang hari Minggu. Sebenarnya aku malas hadir, sangat-sangat malas. Dasar masa lalu. Pikirku. Tapi berhubung aku juga belum beres-beres kamar karena semester depan adalah jadwal pindahan kamar di asramaku yang baru ini, jadi sekalian saja.

Hari ini, sebelum pulang.

Temen kamar : “Mbak, jangan lupa aku titip salam iya”.

Aku : “Iyaa, nanti tak salamin bapak ibuku”.

Temen kamar : “Nggakkk… aku nitip salam buat ponakanmu yang cakep itu lho”.

Aku : “Allahuakbar -___-“.

Wanita Biasa

Santriwati

Buaya Lokal

Dari bunyi ke kata, dan kata-kata yang bercerita.

Obrolin

Obrolan-obrolan ringan untuk diobrolin

Jurnal Cantik

Bercerita dan Berbagi

Dewi Nur Aisyah

Sejernih cita, Sebening asa, Merajut cerita

Blognya Berlin

Moms Diary, Happy Working Mom, Self Reminder

Afa

Human Rights Defenders | Seekers of Meaning

Gadis Pratiwi

Life is too short to spend it at war at yourself.

JURNALTHAR

Hanya menulis apa-apa yang dibisikan oleh hati dan pikiran

Perempuan Senja

Menulislah kamu seakan-akan kamu akan mati besok

NALURI CERDAS

Perluas Cara Pandang, Cerdaskan Pola Pikir, Biarkan Naluri Berbicara.

Sheza Home

Proyek Evolusi Mama Muda

Review Umami

Bangun, Review, Tidur.

Blog Masjhu

Kreatif itu relatif

DEESUCII@DuniaSementara

senantiasa ada senyum dari-Nya untuk selalu berbagi, bersyukur dan jadilah inspirasi

Kamus Istilah

Yang Pernah Mbuat Aku Bingung

mrsekasari

Eka Utak Atik Kata